Cari

Selasa, 09 Agustus 2016

KELOMPOK 1
1.      Ahza Arzanul Haq                            (01)
2.      Annina Hurriyyati Tanzil                (02)
3.      Annisa Ramadhika Widowati          (03)
4.      Argayoga Laksana Satyagraha       (04)

XII IPS 2
SMA NEGERI 1 BOYOLALI

KOMUNIS DI CINA

Pada akhir tahun 1949, Amerika Serikat sebagai pimpinan blok barat (liberal kapitalis) dikejutkan setelah meluasnya pengaruh sosialis komunis di wilayah Asia yang disebabkan oleh kemenangan komunis di daratan Cina, sehingga lahirnya negara komunis cina dengan nama Republik Rakyat Cina atau RRC tahun 1911 dengan presiden Dr. Sun Yat Sen.
Pada tahun 1922 pemerintahan republik runtuh dan kaum militer yang berkuasa, oleh karena ada dua pemerintahan dalam satu wilayah Cina, terjadilah perang saudara dua kelompok yang dominan, yaitu Kuo Min Tang (Partai Nasionalis Cina) yang dipimpin Sun Yat Sen dengan merekrut mahasiswa kemudian digantikan oleh Chiang Kai Shek dan PKC dipimpin oleh Mao Ze Dong. Kedua kelempok tersebut berebut kekuasaan sehingga terjadi perang saudara. Untuk mencari dukungan, Mao Ze Dong melakukan long march dengan mengelilingi pegunungan Yunan. Langkah mao ini cukup sukses dengan diperolehnya dukungan dari kalangan petani pedesaan yang merupakan kelompok mayoritas.
Tujuan dilaksanakan long march:
a)      Untuk menjauhkan diri dari pusat kekuatan nasionalis.
b)      Daerah utara adalah daerah pertanian subur.
c)      Untuk mendekatkan diri dengan kelompok Partai Komunis Cina.
d)      Untuk mendekati Jepang yang menjadi musuh Kuo Min Tang.
e)      Untuk mencari kader komunis yang terpercaya.
f)       Untuk menunjukkan keuletan kaum komunis.
g)      Menyebarkan paham komunis di sepanjang jalan yang dilaluinya.
Perang tersebut dimenangkan oleh kelompok Mao dengan mendirikan pemerintahan Republik Rakyat Cina pada tanggal 1 Oktober 1949 sehingga partai komunis Cina berkuasa. Partai komunis banyak dianut oleh mahasiswa di Beijing dan Shanghai. Pada tahun 1928 seluruh Cina berhsil disatukan dalam pemerintahan kaum nasionalis. Sementara itu, kelompok nasionalis pimpinan Chiang Kai Shek membentuk pemerintahan di Taiwan pada bulan Mei 1950 yang berideologi sama dengan Amerika Serikat, yaitu demokrasi. Selama Perang Dingin berlangsung Cina memiliki pengaruh yang penting, yaitu :
a)       Cina muncul sebagai negara yang mempunyai potensi besar sebagai sasaran perluasan ideologi.
b)       Cina memiliki peran sentgral bagi ideologi yang akan dimenangkan dalam perang dingin.
c)       Posisi Cina yang strategis menjadi keuntungan tersendiri bagi Amerika Serikat maupun Uni Soviet dalam menyebarluaskan ideologinya masing-masing ke kawasan Asia Tengah dan kawasan Asia Tenggaa.
Kemenangan oleh Mao Ze Dong dengan partai komunisnya di Cina mengakibatkan pemerintahan di Cina hingga sekarang menerapkan prinsip-prinsip dasar komunis sebagai ideologi negara Cina.

              Sejarah kelompok Peminatan kelas 12 Platinum


KONFLIK KAMBOJA
Nama Kelompok :
1.          Muhammad Ichbal                    (21)
2.          Muhammad Irfaan Yolanda       (22)
3.          Nurun Nubuwati                       (23)
4.          Puspasari Wahyu Nugraheni     (24)
XII IPS 2


Kamboja atau Kampuchea merupakan negara di Asia Tenggara yang semula berbentuk Kerajaan di bawah kekuasaan Dinasti Khmer di Semenanjung Indo-China antara Abad Ke-11 dan Abad Ke-14. Rakyat Kamboja biasanya dikenal dengan sebutan Cambodian atau Khmer, yang mengacu pada etnis Khmer di negara tersebut.
Kamboja menghebohkan dunia ketika komunis radikal Khmer Merah di bawah pimpinan Pol Pot berkuasa pada tahun 1975. Saat itu, Pol Pot memproklamirkan Kamboja sebagai sebuah negara baru. Ia menyebut tahun 1975 sebagai “Year Zero”. Segala sesuatunya ingin dibangun dari titik nol. Tanggal 17 April 1975 dinyatakan sebagai Hari Pembebasan (Liberation Day) dari rezim Lon Nol yang buruk dan korup. Ternyata, pembebasan yang dijanjikan Pol Pot justru merupakan awal masa kegelapan bagi rakyat Kamboja. Pada periode 1975-1979, 1,5 hingga 2 juta penduduk atau sekitar 20% dari jumlah populasi dari 7-8 juta penduduk tewas dibantai oleh rezim Khmer Merah dalam rangka revolusi ekstrimis agraris. Khmer Merah merupakan Partai Komunis Kamboja pimpinan Pol Pot yang memerintah Kamboja 1976-1979.
Tindakan genosida yang dilakukan oleh rezim Khmer Merah merupakan titik klimaks dari konflik yang dialami Kamboja sejak memperoleh kemerdekaan dari Perancis pada tanggal 9 November 1953. Khmer Merah menduduki tampuk kekuasaan setelah berhasil menggulingkan Republik Khmer Lon Nol pada 17 April 1975. Republik Khmer Lon Nol yang beraliran kapitalis pro-AS menjadikan Kamboja berada dibawah hegemoni AS untuk melawan Vietnam Utara.
Akan tetapi, Angkatan darat dan armada laut Amerika Serikat justru mengubah Kamboja menjadi medan pertempuran dalam rangka melawan komunisme Vietnam Utara. Lebih dari 100.000 penduduk sipil Kamboja tewas akibat petaka yang dijatuhkan pesawat pembom Amerika B-52. Pada akhirnya, pemerintahan Lon Nol kehilangan dukungan dari rakyatnya yang mengakibatkan destabilitasi ekonomi dan militer di Kamboja dan gelombang dukungan terhadap Pol Pot.
Pada 17 April 1975, Khmer Merah yang dipimpin oleh Pol Pot berhasil menggulingkan kekuasaan dan menjadi pemimpin Kamboja. Hanya dalam beberapa hari saja, rezim baru ini telah menghukum mati sejumlah besar rakyat Kamboja yang tadinya bergabung dengan rezim Lon Nol. Penduduk Phnom Phen dan juga penduduk di provinsi lain terpaksa keluar dari kota dan pindah ke daerah-daerah penampungan. Phnom Phen menjadi kota mati. Seluruh perekonomian di seluruh negeri berubah di bawah garis keras komunis, Uang hilang dari peredaran. Akibat dari semua itu adalah terjadinya kelaparan dan wabah penyakit di daerah tersebut.
Selama 44 bulan berikutnya, jutaan orang Kamboja menjadi korban teror dari Khmer Merah. Para pengungsi yang berhasil lari ke Thailand menceritakan kekejaman kelompok ini yang antara lain menghukum mati anak-anak hanya karena mereka tidak lahir dari keluarga petani. Selain itu orang-orang keturunan Vietnam dan Cina juga turut diteror dan dibunuh. Siapa saja yang disangka sebagai orang yang berpendidikan, atau menjadi angota dari keluarga pedagang pasti dibunuh dengan cara dipukul sampai mati, bukan dengan ditembak dengan dalih untuk menghemat amunisi.
Pada bulan Agustus 1976, Pol Pot menjalankan Rencana Empat Tahun untuk meningkatkan produksi pertanian sebagai produk ekspor melalui industrialisasi pertanian dan pengembangan industri ringan beragam. Khmer Merah menjadikan seluruh penduduk sebagai buruh budak paksa pada proyek pertanian besar-besaran yang diperlakukan dengan sangat tidak manusiawi.
        Pada masa pemerintahan Pol Pot, sekitar 20% rakyat Kamboja tewas akibat kebijakan utopis Pol Pot. Disamping itu, kebijakan tersebut menyebabkan rakyat Kamboja telah kehilangan rasa moralitasnya hingga mengubah karakter budaya Kamboja secara signifikan karena meraka hanya diwajibkan patuh terhadap pemerintah.
Masa empat tahun Pol Pot dan Khmer Merahnya berkuasa di Kamboja, adalah masa yang membuat seluruh dunia geger. Khmer Merah berupaya mentransformasi Kamboja menjadi sebuah negara Maois dengan konsep agrarianisme. Rezim Khmer juga menyatakan, tahun kedatangan mereka sebagai “Tahun Nol” (Year Zero). Mata uang, dihapuskan. Pelayanan pos, dihentikan. Kamboja diputus hubungannya dengan luar negeri. Hukum Kamboja juga dihapuskan. Rezim Khmer Merah dalam kurun waktu tersebut diperkirakan telah membantai sekitar dua juta orang Kamboja.
        Ada sekitar 343 “ladang pembantaian” yang tersebar di seluruh wilayah Kamboja. Choeung Ek adalah “ladang pembantaian” paling terkenal. Di sini, sebagian besar korban yang dieksekusi adalah para intelektual dari Phnom Penh, yang di antaranya adalah: mantan Menteri Informasi Hou Nim, profesor ilmu hukum Phorng Ton, serta sembilan warga Barat termasuk David Lioy Scott dari Australia. Sebelum dibunuh, sebagian besar mereka didokumentasikan dan diinterogasi di kamp penyiksaan Tuol Sleng.
        Di “ladang pembantaian” ini, para intelektual diinterogasi agar menyebutkan kerabat atau sejawat sesama intelektual. Satu orang harus menyebutkan 15 nama orang berpendidikan yang lain. Jika tidak menjawab, mereka akan disiksa. Kuku-kuku jari mereka akan dicabut, lantas direndam cairan alkohol. Mereka juga disiksa dengan cara ditenggelamkan ke bak air atau disetrum. Kepedihan terutama dirasakan kaum perempuan karena kerap diperkosa saat diinterogasi.
Pada tanggal 25 Desember 1978, setelah beberapa pelanggaran terjadi di perbatasan antara Kamboja dan Vietnam, tentara Vietnam menginvasi Kamboja. Tanggal 7 Januari 1979, pasukan Vietnam menduduki Phnom Penh dan menggulingkan pemerintahan Pol Pot. Pemerintahan boneka lalu dibentuk di bawah pimpinan Heng Samrin, mantan anggota Khmer Merah yang telah membelot ke Vietnam. Namun pemerintahan baru ini tidak diakui oleh negara-negara Barat. Sementara Pol Pot dan para pengikutnya lari ke hutan-hutan dan kembali melakukan taktik gerilya dan teror.
Tindakan keji Khmer Merah terhadap Rakyat Kamboja mendapat kecaman keras dari masyarakat internasional yang menganggap bahwa kejahatan terhadap kemanusiaan adalah bentuk pelanggaran HAM. Namun demikian, kegemilangan People’s Republic of Kampuchea (PRK) melengserkan Khmer Merah dan tampil sebagai pemimpin baru Kamboja justru mendapat kecaman dari dunia internasional.
Menanggapi reaksi keras masyarakat internasional, Vietnam mendeklarasikan pembelaan bahwa tindakan okupasi yang dilakukannya semata-mata dilakukan demi pembebasan rakyat Kamboja dari rezim Pol Pot yang keji. Mayoritas masyarakat internasional menolak mengakui rezim Heng Samrin sebagai pemerintahan yang sah di Kamboja dan masih tetap mengakui rezim Khmer Merah sebagai pemerintahan yang sah mewakili Kamboja di forum internasional.
        Invasi Vietnam dianggap sebagai tindakan ilegal dan melanggar norma-norma internasional seperti azas untuk menentukan hak sendiri serta kebebasan dari campur tangan pihak asing. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa secara bulat komunitas dunia menghendaki agar pasukan atau kekuatan asing dapat segera keluar dari Kamboja.
Di bawah tekanan internasional, Vietnam akhirnya menarik tentara pendudukan dari Kamboja. Keputusan dilakukan secara terpaksa karena adanya sanksi ekonomi terhadap Kamboja dan pemberhentian dukungan terhadap Vietnam oleh Uni Soviet. Dalam invasi Vietnam, pada tahun 1978 hingga 1989 mengakibatkan 65.000 tewas terbunuh, 14.000 di antaranya adalah warga sipil.
Pada tahun 1982, Tiga kelompok (faksi) yang masih bertahan di Kamboja yaitu Khmer Merah, dan Front kemerdekaan nasional, netral, kedamaian dan kerja sama Kamboja (FUNCINPEC) pimpinan Pangeran Sihanouk, serta Front nasional kebebasan orang-orang Khmer yang dipimpin oleh perdana menteri yang terdahulu yaitu Son Sann, membentuk koalisi yang bertujuan untuk memaksa keluar tentara Vietnam. Tahun 1989, tentara Vietnam akhirnya mundur dari Kamboja.
Tahun 1992, PBB (UNTAC), mengambilalih sementara pemerintahan negara ini. Tahun berikutnya, PBB menggelar pemilu demokratis yang dimenangkan oleh FUNCINPEC. Faksi ini kemudian membentuk pemerintahan koalisi bersama Partai Rakyat Kamboja (CPP) pimpinan Hun Sen.
Sekarang, Kamboja telah berkembang pesat berkat bantuan dari negara-negara asing. Negara ini bahkan telah menggelar persidangan terhadap seorang mantan pemimpin Khmer Merah atas dakwaan melakukan kejahatan terhadap kemanusiaan. Rakyat di kota dan desa juga telah hidup tenang walaupun dihantui bahaya ranjau darat yang masih banyak bertebaran di seluruh penjuru negeri.
Sumber :

Anggota kelompok : 1. Diza Wahyu A.               (09)
                                  2. Dyah Kusuma A.            (10)
                                  3. Fuskha Nur Islami         (11)
                                  4. Gardhika A.E.L             (12)
Kelas                       : XII IPS 2

Revolusi Kuba


 Kuba adalah negara pulau yang terletak di Teluk Meksiko, Laut Karibia. Kuba merupakan negara yang terkenal dengan cerutunya. Kuba sebelumnya juga lama menjadi jajahan Spanyol. Pada masa Perang Dingin, Kuba yang letaknya sangat strategis juga tidak luput dari incaran perluasan pengaruh dan ideologi negara adidaya. Kuba merupakan negara republik komunis pertama yang berada di belahan bumi Barat. Letak Kuba yang dekat dengan Negara Amerika Serikat menjadi ancaman serius bagi Amerika Serikat.

Kuba sebelum Perang Dunia II
Kuba pertama kali ditemukan oleh Columbus, orang Spanyol pada tahun 1492. Seperti halnya tempat-tempat lain yang ditemukan orang Eropa dalam masa penjelajahan samudra, yaitu diakui sebagai miliknya, begitu pula dengan nasib Kuba. Columbus segera mengklaim bahwa Kuba adalah milik Spanyol. Sejak saat itu, Kuba menjadi koloni Spanyol. Pada sekitar tahun 1868–1878 di Kuba timbul gerakan menuntut kemerdekaan. Perang Kemerdekaan tahap kedua muncul pada tahun 1895 dengan dipimpin Jose Marti. Amerika Serikat mendukung gerakan itu setelah kapal perangnya Marine yang dikirim untuk melindungi warga negaranya di Kuba meledak misterius. Amerika Serikat menganggap itu merupakan sabotase yang dilakukan Spanyol. Oleh karena itu, Amerika Serikat membantu Kuba menyingkirkan Spanyol. Wilayah Kuba sampai tahun 1902 mendapat perlindungan dari Amerika Serikat. Pada tahun 1933 kelompok revolusioner yang dipimpin oleh Fulqencio Batista berhasil mengambil alih pemerintahan di Kuba. Batista memerintah Kuba secara diktator. Pada masa pemerintahan Batista, korupsi makin merajalela.
Kuba setelah Perang Dunia II
Kondisi rakyat Kuba yang sangat memprihatinkan pada masa pemerintahan Batista, menggugah semangat salah seorang anak bangsa untuk memperbaikinya. Fidel Castro seorang putra tuan tanah kaya raya tidak tahan melihat penderitaan rakyat Kuba. Pada tahun 1953 Castro mencoba melakukan kudeta, tetapi gagal. Akibatnya, Castro dijatuhi hukuman lima belas tahun penjara.     
Namun, baru menjalani hukuman selama dua tahun, Castro telah dibebaskan. Penjara tidak membuat Castro jera dalam memperjuangkan keinginannya. Setelah keluar dari penjara Castro kembali menghimpun kekuatan. Castro melatih pengikutnya di dekat kota Meksiko. Pada tahun 1956, Castro bersama para pengikut setianya kembali berusaha menggulingkan kekuasaan Presiden Batista. Selama hampir tiga tahun Castro berusaha merebut kekuasaan di Kuba. Pada tahun 1959 Batista meninggalkan Kuba dan digantikan Castro. Fidel Castro sebenarnya bukan seorang komunis. Hal itu seperti pernyataannya yang mengatakan, “Revolusi kita bukan berwarna merah, melainkan hijau zaitun.” Kata-kata Castro itu menunjuk pada warna seragam yang ia pakai bersama pengikutnya. Bahkan, Castro juga mengutuk komunis dengan konsepnya yang totaliter. Castro juga berusaha membersihkan tindakannya yang dianggap disponsori komunis dengan berpidato di Universitas Princeton, Amerika Serikat. Dalam pidato tersebut, Castro menyatakan bahwa, “... bertentangan dengan pola Revolusi Rusia dan model Marxis bahwa di Kuba tidak berdasarkan perjuangan kelas .... Revolusi Kuba juga tidak berniat meniadakan kepemilikan swasta.” Namun, pemerintah Amerika Serikat tetap memandang bahwa revolusi yang dikobarkan Castro disponsori pihak komunis. Hal ini akibat tindakan Castro yang banyak mengubah kehidupan Kuba yang mendekati slogan komunis, sama rasa sama rata. Castro banyak membangun sekolah dan rumah bagi orang yang tidak mampu. Pemerintah Kuba juga mulai mengontrol semua penerbitan surat kabar serta siaran radio dan televisi. Tindakan Castro makin lama mengkhawatirkan pemerintah Amerika Serikat. Hal itu disebabkan Castro makin berani menasionalisasi perusahaan-perusahaan asing yang berada di Kuba.
Akibatnya, Amerika Serikat mengambil tindakan tegas, yaitu menghentikan hubungan dengan Kuba pada tahun 1961. Menghadapi kenyataan itu Fidel Castro selanjutnya segera menjalin hubungan dengan negara-negara komunis, seperti Cina dan Uni Soviet. Dari negara-negara tersebut, Kuba berharap agar mereka bersedia memberi bantuan ekonomi guna melaksanakan dan melanjutkan pembangunan.
Pemerintah Amerika Serikat yang mendapati kenyataan bahwa Kuba telah masuk blok komunis makin khawatir atas keselamatan negaranya. Hal itu beralasan karena jarak Kuba dengan Amerika Serikat tidak lebih dari 10 mil. Atas kekhawatiran itu, pemerintah Amerika Serikat berniat menggulingkan pemerintahan Fidel Castro yang prokomunis. Untuk mencapai maksud itu, pemerintah Amerika Serikat akan menggunakan para pelarian Kuba yang tinggal di Amerika Serikat. Dari orang-orang pelarian Kuba itu, Amerika Serikat berharap dapat menguasai Teluk Babi yang dapat dipakai sebagai lompatan untuk menundukkan Havana, ibu kota Kuba. Dinas intelejen Amerika Serikat (CIA) bertugas melatih orang-orang pelarian Kuba agar berhasil dalam misinya. Sekitar 1.200 orang pelarian Kuba di Amerika Serikat berhasil dikumpulkan dan dilatih kemiliteran.
Presiden baru Amerika Serikat, John Fietzgeerald Kennedy juga menyetujui rencana penggulingan Fidel Castro melalui orang-orang Kuba sendiri. Kennedy bahkan memerintahkan untuk memberi perlindungan dan pengawalan dalam penyerbuan Teluk Babi melalui pelarian orang-orang Kuba dilaksanakan. Peristiwa itu kemudian disebut The Bay Pig’s Episode atau Insiden Teluk Babi

 Invasi Teluk Babi
Pada tahun 1961, rakyat Amerika pun melakukan kampanye besarbesaran untuk menjatuhkan Castro dari kekuasaanya di Kuba. Pada April 1961, mereka mengadakan serangan di Teluk Babi, dengan merekrut tentara Kuba yang ada dalam pengasingan untuk menyerang pulau tersebut Tanggal 15 April 1961, hari setelah Castro menggambarkan revolusinya sebagai seorang sosialis, empat lapangan udara Kuba dibom oleh pesawat A-26. Pengeboman ini berlangsung ditahap awal invasi teluk babi. Rakyat Kuba yang berada dipengasingan itu didanai dan dilatih oleh CIA yang melakukan serangan ke Kuba, namun tidak berhasil pada tanggal 17 April 1961.
Serangan brigade 2506, sebuah pasukan yang berjumlah sekitar 1400 orang Kuba dalam pengasingan yang dikomandani oleh Manuel Artime dan pemimpin operasi CIA Grayston Lynch dan William Robertson, mendarat di bagian tenggara Havana, tepatnya di Playa Giron, Teluk Babi oleh Erneido Oliva, kebanyakan dari pasukan sebanyak 1200 orang membuatnya turun ke darat, namun cadangan amunisi dalam dua kapal pendukung yang disediakan Amerika serikat, Houston dan Rio Escondido, ditenggelamkan oleh tentara Kuba, dan Sea Fury yang digerakkan dengan baling-baling kapal dan T-33 Jets pun hilang. Presiden Kennedy pun dipengaruhi oleh pejabat Departemen Negara, termasuk Roy Rubottom dan asistennya William Weiland yang terlibat dalam masalah-masalah dengan Castro sejak kerusuhan Bogota dan juga persoalanpersoalan Kuba tahun 1933 sebagai asisten Sumner Welles
Kennedy mengambarkan dukungan bagi invasi Teluk Babi pada menit-menitr terakhir dengan Kennedy membatalkan beberapa bentuk pengeboman yang bisa melumpuhkan seluruh Angkatan Udara Kuba. Prembatalan juga mencegah Angkatan Laut Amerika menunggu disepanjang pantai dari pendaratan dalam mendukung masyarakat Kuba yang berada dalam pembuangan. Setelah tiga hari pertempuran, sekitar 100 penyerang yang mungkin 2000 milisi, telah tewas (kebanyakan terjebak dalam bus di jalan yang melewati rawa), sedangkan sisa para penyerang ditangkap. Setidaknya sembilan penyerang dieksekusi secara formal, sejumlah orang tewas karena lemas dalan truk trailer yang tidak ada lubang anginnya. Kegagalan upaya invasi Teluk Babi sebagai pengambilan keputusan yang buruk, khususnya bagi orang-orang Amerika-Kuba sendiri, memandang masalah ini sebagai sebuah keputusan pemerintahan Kennedy dalam upaya menyingkirkan para pelarian Kuba yang dianggap mengganggu Amerika
CIA sendiri dalam sebuah laporan internalnya menuduh bahwa kegagalan itu sebenarnya hanya terletak pada ketidakkompetenan internal. CIA juga menyatakan bahwa kegagalan itu terletak pada kekliruan analisis orang Amerika lainnya. Apapun alasannya, yang jelas invasi itu menjadikan castro lebih popular. Melalui peristiwa itu, Castro bahkan memperolah kekuatan baru untuk menanamkan sentiment-sentimen nasionalistik dalam rakyatnya, dalam rangka mencari dukungan untuk melaksanakan kebijakan-kebijakan ekonominya. Dalam kegagalan Invasi Teluk Babi yang lebih menyakitkan lagi bagi Amerika, bahwa Kuba berhasil menyandera seribu lebih tawanan Amerika, tapi justru Amerika yang harus memasok sejumlah makanan dan obat-obatan seharga 53 juta dolar sebagai pembayaran untuk membebasakan para tawanan. “Untuk pertama kalinya dalam sejarah,” kata Castro, ”Imperialisme telah membayar kerugian perang!” Fidel Castro setelah berkuasa melakukan banyak pembenahan di lingkup pemerintahan Kuba.
Salah satu hal adalah menjadikan Kuba menjadi Negara Sosialis, ditahun 1961, bersamaan dengan pidatoMay day, Castro menyatakan bahwa Kuba resmi menganut paham sosialis. Pada tanggal 23 Maret 1962, sebuah partai politik organizaciones revolusionarias Integradas (ORI, didirikan oleh Castro dan sekaligus sebagai sekretaris utamanya. Pada tahun 1963, partai itu kemudian berganti nama menjadi Partindi Unido de la revolucion Socialita (PURS) dan oktober 1965 berubah lagi menjadi Partido Comunista de Cuba (partai Komunis Kuba). Sejak Castro berkuasa, pada tanggal 7 Februari 1962 AS secara progresif telah memberlakukan undang-undang yang dimaksudkan untuk mengisolasi Kuba secara ekonomi lewat embargo AS dan langkah-langkah lainnya, seperti menghukum warga AS yang berlibur di Kuba.
Namun, pada detik-detik terakhir penyerangan, Kennedy memerintahkan membatalkan bantuan perlindungan dan pengawalan. Akibatnya mudah diduga, pemerintah Kuba sangat mudah mematahkan penyerbuan orang-orang Kuba pelarian itu. Atas Insiden tersebut, hubungan Kuba dan Amerika Serikat makin renggang. Sementara itu, pemimpin Uni Soviet, Khruschev segera memanfaatkan situasi atas insiden Teluk Babi tersebut dan begitu intensif mendekati Kuba
Ia menawarkan paket bantuan ekonomi yang lebih besar lagi apabila Kuba bersedia mengizinkan Uni Soviet membangun pangkalan militer dan menempatkan rudal nuklirnya di wilayah tersebut. Ia berencana rudal-rudalnya akan dapat diarahkan ke Amerika Serikat tanpa ada hambatan. Keinginan Uni Soviet tentu saja mendapat tantangan dari Amerika Serikat. Presiden Kennedy menyatakan bahwa penempatan rudal Uni Soviet di Kuba merupakan ancaman langsung terhadap Amerika Serikat. Oleh karena itu, pemerintah Amerika Serikat akan mengambil segala cara dan tindakan untuk menggagalkannya. Salah satu tindakan Amerika Serikat dalam menggagalkan pembangunan pangkalan militer dan rudal Uni Soviet adalah menghadang setiap kapal Uni Soviet yang menuju ke Kuba. Tentu saja tindakan itu menimbulkan krisis yang hampir membawa dunia dalam perang nuklir. Karena merasa belum berimbang kekuatan militernya, akhirnya Uni Soviet membatalkan penempatan pangkalan militer dan rudalnya di Kuba
Krisis Misil Kuba
 Kuba tahun 1962, yang membawa Amerika Serikat dan Uni Soviet saling melakukan konfrontasi secara langsung terhadap Kuba. Krisis Misil Kuba dimulai ketika Uni Soviet menempatkan misil-misil nuklir di Kuba pada 1962. Sebagai jawabannya, AS melakukan blokade di perairan internasional. Umumnya orang percaya bahwa ini adalah saat terdekat dunia dengan bencana nuklir. Uni Soviet mundur, setuju untuk menyingkirkan misil-misilnya dengan imbalan janji AS untuk menyingkirkan misil-misil nuklir serupa di Turki dan untuk tidak pernah menyerang Kuba lagi.
Khruschev bertemu dengan delegasi Kuba yang dipimpin oleh Raul Castro pada bulan Juli, setelah berkonsultasi dengan penasehat militernya. Akhirnya disetujui penyebaran Soviet R-12 MRBM di daratan Kuba, namun Lockheed U-2 Amerika pun melakukan pengintaian konstruksi instalasi missil pada tanggal 15 Oktober 1962 sebelum senjata-senjata disebarkan.Amerika pun memandang instalasi senjata nuklir Uni Sovyet yang berjarak tempuh 90 mil ke selatan Key West sebagai sebuah tindakan agrisif dan ancaman bagi keamanan Amerika, akibatnya, Amerika Serikat mengumumkan kepada publik penemuannya pada tanggal 22 Oktober 1962, dan melakukan karantina di sekitar Kuba yang akan secara aktif menangkap dan mencari berbagai saluran utama ke pulau tersebut. Nikolia Sergeevich Leonov, yang akan menjadi Jenderal dalam Direktorat Intelijen KGB, dan kepala Deputi KGB Sovyet di Warsawa, menjadi penerjemah Castro yang digunakan untuk kontak dengan Rusia (Ferdinan Zaviera, 2007: 67) Dalam surat pribadinya kepada Khrushchev tertanggal 27 Oktober 1962, Castro mendesak Khrushchev untuk melancarkan serangan nuklir pertama terhadap Amerika Serikat jika Kuba diserang Amerika, tapi Khrushchev menolak respon serangan. Namun, komandan lapangan Sovyet di Kuba melegalkan penggunaan senjata nuklir taktis jika diserang Amerika.
Khrushchev pun setuju untuk menghilangkan missil jika Amerika punya komitmen untuk tidak menyerang Kuba dan juga jika ada pemahaman bahwa Amerika akan menghilangkan MRBM Amerika yang menargetkan serangan ke Uni Sovyet lewat Turki dan Italia, sebuah ukuran yang tidak diimplementasikan oleh America. AS tidak pernah lagi mengancam Kuba secara terbuka, namun dapat dibilang bahwa AS terlibat dalam kegiatan-kegiatan rahasia yang sangat terinci dan absurd untuk membunuh Castro, yaitu Proyek Kuba. Castro dan AS berduel dalam aksi-aksi Perang Dingin. Dalam serangan teroris yang terkenal pada 1976 terhadap Cubana Penerbangan 455 di mana 73 orang meninggal konon direncanakan oleh lawan-lawan Castro yang didanai CIA dan beroperasi dari Venezuela. AS juga mendukung kelompok-kelompok teroris anti-Castro di Miami dalam serangan-serangan mereka terhadap Kuba.
 Pada April 1980, lebih dari 10.000 orang Kuba menyerbu kedutaan besar Peru di Havana untuk memperoleh perlindungan politik. Sebagai jawaban, Castro mengizinkan siapapun yang ingin meninggalkan negara itu untuk pergi melalui pelabuhan Mariel. Dalam penyelamatan Mariel dengan kapal, lebih dari 125.000 orang Kuba bermigrasi ke AS. Akhirnya AS menghentikan arus kapal-kapal itu dan Kuba menghentikan eksodus yang tidak terkendali itu. Keruntuhan Uni Soviet pada 1991 merupakan pukulan ekonomi yang dahsyat bagi Kuba. Ini menyebabkan exodus pencari perlindungan lainnya yang juga tidak terkendali ke AS pada 1994, yang berhasil ditekan hingga hanya beberapa ribu setahun di bawah perjanjian AS-Kuba. Kini arus ini tampaknya meningkat lagi, meskipun jauh lebih lambat daripada sebelumnya. Bertahun-tahun dibawah pemerintahan Castro, Kuba terus tumbuh, termasuk bidang ekonominya. Ditahun 1983 pertumbuhan ekonomi Kuba telah mencapai 5%. Dalam bidang pendidikan, Kuba yang hidup di tengah kemiskinan akibat embargo ekonomi Amerika, masih sanggup menggratiskan seluruh biaya pendidikan bagi rakyatnya.
 Apalagi, Amerika Serikat juga berjanji tidak akan mencampuri urusan dalam negeri Kuba. Hubungan baik Kuba dengan Amerika Serikat mulai membaik lagi pada tahun 1973 setelah kedua negara membuat perjanjian mengenai pertukaran pembajak.

Pada tahun 1975 embargo ekonomi pada Kuba yang dilakukan Amerika Serikat mulai dihapus. Namun, hubungan Amerika–Kuba memanas lagi setelah pada akhir tahun 1975 Kuba mengirim pasukannya ke Angola. Dari kejadian di Kuba itu, dua negara adidaya, yaitu Amerika Serikat dan Uni Soviet, akhirnya juga menyadari betapa bahayanya apabila perang terbuka yang merembet pada perang nuklir terjadi. Oleh karena itu, untuk meminimalisasi terjadinya perang nuklir dan akibatnya, kedua negara adidaya sepakat melakukan pembicaraan pengurangan senjata.


Salah satu hal adalah menjadikan Kuba menjadi Negara Sosialis ditahun 1961, bersamaan dengan pidatoMay day, Castro menyatakan bahwa Kuba resmi menganut paham sosialis. Ketegangan antara Castro dan Amerika Serikat semakin kuat selama terjadi krisis missil Kuba tahun 1962, yang membawa Amerika Serikat dan Uni Soviet saling melakukan konfrontasi secara langsung terhadap Kuba. Selama bertahun-tahun dibawah pemerintahan Castro, Kuba terus tumbuh, termasuk bidang ekonominya. Ditahun 1983 pertumbuhan ekonomi Kuba telah mencapai 5%. Dalam bidang pendidikan, Kuba yang hidup di tengah kemiskinan akibat embargo ekonomi Amerika, masih sanggup menggratiskan seluruh biaya pendidikan bagii rakyatnya.

Sumber





PERANG ANTARA IRAK DAN IRAN TAHUN 1980-1988 (PERANG TELUK I)
  1. Septian Adi Hananto                       (29)
  2. Sri Agung Wisnu Wardhani            (30)
  3. Wasis Singgih Sasono                     (31)


Irak Iran ini terjadi pada 22 September 1980 . Perang ini terjadi karena dari kedua belah pihak saling memperebutkan haknya atas apa yang sudah diklaim oleh masing-masing negara. Selain itu perbedaan ideologi antar kedua belah pihak juga sangat berpengaruh. Perang ini juga menerlibatkan negara-negara di Timur Tengah dan menyebabkan produksi minyak menurun. Dan dengan menurunnya produksi minyak di kawasan ini ikut menyeret keterlibatan dua kekuatan super power yaitu Amerika Serikat dan Uni Soviet dengan segala akibatnya. Kawasan Teluk Persi menjadi pusat perimbangan kekuatan global karena terjadinya perang itu.
A.    Latar Belakang atau Penyebab Terjadinya Perang Teluk I
Adapun berbagai penyebab terjadinya perang antara Irak dan Iran, adalah:
1.       Sengketa yang masih terkait dengan sejarah kedua belah negara yang tak pernah akur.
2.       Perbedaan orientasi politik luar negeri. Sampai beberapa waktu yang lalu Irak adalah Pro Uni Soviet, dan Iran adalah Pro Barat.
Persengketaan wilayah yang dianggap penting oleh Irak dan Iran
  1. Persengketaan Sungai Shatt Al Arab[1], Karena letaknya yang berada di perbatasan dan posisi strategisnya yang mengarah ke Teluk Persia, sungai tersebut menjadi bahan sengketa Irak dan Iran. Sebelum perang antara kedua negara meletus, pada tahun 1975 sempat meredakan ketegangan antara kedua belah pihak karena berkat perjanjian Algiers[2].
  2. Provinsi Khuzestan yang kaya minyak. Pada tahun 1969 Irak mengklaim bahwa Khuzestan berada di tanah Irak dan wilayah tersebut diserahkan ke Iran ketika Irak dijajah oleh Inggris. Dengan begitu maka mereka saling meng-klaim sebagai wilayah mereka masing-masing.[3]
Munculnya Revolusi Islam oleh Iran
Pada masa Khomeini Irak menjadi sasaran yang pertama, karena di Irak minorotas Sunni  menindas Syiah dan Kurdi yang secara etnik linguistic dekat dengan bangsa Persi. Selain itu Khomeini menaruh dendam terhadap rezim di Bagdad yang pada tahun 1978 mengusirnya dari Irak karena dia berkampanye melawan pemerintah Shah. Sehubungan dengan itu pemerintah Iran menghasut umat Syiah dan Suku Kurdi di Irak untuk memberontak dan merebut kekuasaan serta membentuk suatu republic Islam menurut pola Republik Islam Iran. Dilain pihak Bagdad menghasut minoritas Kurdi di Irak untuk mendukung minoritas Arab dalam memperjuangkan otonominya, dan membantu sejumlah jendral Iran dan pengikutnya Bakhtiar di pengasingan untuk menyusun kekuatan guna menumbangkan kekuasaan Khomeini.
Irak di bawah kendali Saddam Hussein dan  Partai Baath memiliki ambisi untuk menjadi kekuatan dominan di wilayah Arab di bawah bendera pan-Arabisme sejak meninggalnya Presiden Mesir, Gamal A. Nasser. Revolusi Islam yang terjadi di Iran tersebut dianggap sebagai penghalang karena bertentangan dengan prinsip nasionalisme sekuler Arab. Selain untuk mencegah menyebarnya revolusi Islam, Irak juga berusaha mengambil keuntungan dengan kondisi internal Iran yang tidak stabil pasca revolusi Islam untuk merebut wilayah yang menjadi bahan sengketa dengan Iran dan menambah sumber minyak Irak.
Percobaan pembunuhan terhadap pejabat Irak
Pertengahan tahun 1980, terjadi percobaan pembunuhan kepada Deputi Perdana menteri Irak, Tariq Aziz. Irak segera bertindak dengan menangkap sejumlah orang yang diduga terlibat atas percobaan pembunuhan tersebut dan  mendeportasi ribuan warga Syiah berdarah Iran keluar dari Irak. Pemimpin Irak, Saddam Hussein, menyalahkan Iran sambil menyebut ada agen Iran yang terlibat dalam peristiwa tersebut. Hal inilah yang menjadi salah satu faktor pendorong meletusnya perang Irak-Iran.[5]
Penyebab khusus terjadinya Perang Teluk I antara lain:
a.       Adanya serangan granat pada tanggal 1 April 1980 terhadap wakil Perdana Menteri Irak Tariq Aziz yang diduga bertanggung jawab atas aksi-aksi survesi terhadap Iran.
b.      Adanya pengusiran ribuan keturunan Iran oleh Saddam, serta melancarkan serangan yang sengit terhadap pribadi Khomeini dan membatalkan perjanjian Algiers. Sedangkan Menlu Iran Shodeh Godzadeh berjanji untuk menumbangkan rezim Baath yang berkuasa di Irak serta memutuskan hubungan diplomatic.
c.       Kedua negara saling menempatkan pasukan masing – masing di daerah perbatasan dalam jumlah yang cukup besar.
d.      Terjadinya perang pers dan media masa antar kedua belah negara.
e.       Pada 17 September 1980, presiden Saddam Hussein membatalkan Perjanjian Algiers tahun 1975 karena pada waktu itu Saddam Hussein merasa bahwa Perjanjian Algiers tidak adil untuk Irak. Kemudian Iran melihatnya sebagai pernyataan perang pada 20 September 1980.
Tahap perang
1. Tahun 1980, Penyerbuan oleh irak
Pada tanggal 22 September irak melancarkan serangan udara di 10 pangkalan udara yang terdapat di Iran, Irak mnggunakan strategi yang dilakukan Israel dalam perang 6 hari. Karena gagal sehari kemudian, Irak melakukan serangan darat ke wilayah Iran dari 3 front sekaligus. Inti dari serangan tersebut adalah untuk menguasai Khuzestan & Shatt al- menguasai front utara (Qasr-e Shirin) & front tengah (Mehran). Bulan November 1980, pasukan Irak melancarkan serangan ke 2 kota penting yang strategis di Iran selatan, Shabadan & Khorramshahr. Dalam penyerbuannya itu, pasukan Irak mendapat perlawanan sengit dari pasukan Pasadan (Garda Revolusi) Iran. Kedua kota tersebut akhirnya berhasil dikuasai Irak pada tanggal 10 November 1980.
2. 1982: Titik Balik Mudurnya Irak
Titik balik bagi Iran terjadi pada bulan Maret 1982 dalam operasi militernya di bawah kode sandi "Operasi Kemenangan yang Tak Dapat Disangkal" (Operation Undeniable Victory). Dalam operasi militer itu, pasukan gabungan Pasadan-Basij milik Iran berhasil menembus garis depan pasukan Irak yang sebelumnya dianggap tidak bisa ditembus & memecah pasukan Irak di utara & selatan Khuzestan sehingga pasukan Irak terpaksa mundur.

3. Tahun 1982-1988 : Penyerbunan oleh Iran
Bulan Juli 1982, Iran melancarkan serangannya ke kota Basra, Irak, di bawah kode sandi "Operasi Ramadhan". Keberhasilan Iran memukul balik Irak & berbalik menjadi negara penyerbu mengakibatkan Presiden AS Ronald untuk membantu Irak sejak tahun 1982.
4. 1984-1988: Perang Tanker
Tahun 1984, Irak - yang baru mendapat bantuan pesawat tempur Super Etentard terbaru dari Perancis - melakukan operasi militer di laut mulai dari muara Shatt el-Arab hingga pelabuhan Iran di Bushehr. Tujuannya adalah untuk memblokade ekpsor minyak Iran & mempengaruhi ekonominya sehingga Iran mau berunding dengan Irak.

5. 1987-1988: Ikut Campurnya Amerika Serikta
Situasi perang tanker yang semakin membabi buta karena ikut menargetkan kapal-kapal tanker dari negara-negara yang netral membuat Kuwait meminta bantuan pihak internasional pada tahun 1986. Uni Soviet  yang merespon dengan mengirimkan kapal-kapal lalu diikuti oleh AS pada tahun 1987. Faktor pendorong utama ikut campurnya AS dalam Perang Irak-Iran sebenarnya disebabkan karena kapal perangnya, USS Stark, ditenggelamkan oleh pesawat tempur Irak sehingga 13 awak kapalnya meninggal. Irak meminta maaf kepada AS sambil mengatakan bahwa itu adalah kecelakaan & permintaan maaf Irak diterima oleh AS. Ironisnya, sesudah insiden itu AS justru menyalahkan Iran dengan alasan Iranlah yang menyebabkan peperangan semakin berkobar. Tujuan utama AS dalam penerjunan armada lautnya di sekitar Teluk adalah untuk mengisolasi Iran & menjaga agar kapal-kapal bebas berlayar di sana. AS baru melancarkan serangan langsung ke Iran dengan menghancurkan kilang minyak Iran di ladang minyak Rostam setelah pasukan Iran menenggelamkan kapal tanker Kuwait berbendera AS, Sea Isle City. Setahun kemudian, tepatnya bulan April 1988, AS kembali menyerang kilang minyak & kapal-kapal perang Iran setelah kapal perangnya, USS Samuel B. Roberts, tenggelam akibat ranjau laut Iran. Tanggal 3 Juli 1988, kapal perang AS, USS Vincennes, menembak jatuh pesawat sipil Iran sehingga seluruh penumpang & awak pesawatnya tewas. AS berdalih bahwa pasukannya salah mengira bahwa pesawat sipil tersebut adalah pesawat tempur Iran karena tidak mengidentifikasikan dirinya ke kapal perang sebagai pesawat sipil & pesawat tersebut berada di perairan umum. Klaim AS tersebut dibantah oleh Iran & sumber independen lainnya seperti bandara Dubai bahwa pesawat tersebut sudah mengidentifikasikan dirinya ke kapal AS sebagai pesawat sipil melalui radio & pesawat itu masih berada di perairan Iran.
6. Tahun 1988: Gencatan Senjata dan Pasca Perang
Antara bulan April hingga bulan Agustus 1988, arah pertempuran mulai kembali ke arah Irak di mana Irak berhasil meraih beberapa kemenangan penting atas Iran. Dalam pertempuran pada kurun waktu tersebut, Irak juga berhasil merebut sejumlah besar alutsista milik Iran & menguasai kembali Semenanjung Al-Faw serta Kepulauan Majnun yang kaya minyak. Perang akhirnya berakhir setelah Iran menerima Resolusi Dewan Keamanan PBB 598 & secara resmi mengakhiri perang yang sudah terjadi selama 8 tahun pada tanggal 20 Agustus 1988
a. Dampak Negatif yang Ditimbulkan :

1. Dalam Bidang Ekonomi :
- Perekonomian Irak mengalami kehancuran serta terkena blokade ekonomi dan sanksi dari PBB
- Kerugian besar bagi kedua belah pihak, dari segi material jumlah kerugian material bagi masing-masing negara diperkirakan mencapai 500 juta dollar AS.
- Jumlah kerugian lebih besar harus ditanggung Irak yang selama perang memang aktif mencari pinjaman uang untuk menambah persenjataan.
- Pembangunan ekonomi di kedua negara menjadi terhambat dan ekspor minyak kedua negara terganggu.
- Produksi minyak yang menurun drastis mempenagruhi perekonomian dunia, khususnya bagi industri-indstri di dunia Barat dan Jepang.
- Ladang minyak dari kedua negara mengalami kerusakan, untuk Irak di daerah Kirkuk, Basra dan Fao, sedangkan untuk Iran mengalami kerusakan di pulau Kharg dan Abadan.
2. Dalam Bidang Sosial :
- Jumlah korban jiwa, jumlah korban tewas Irak mungkin mencapai 200.000 jiwa lebih, sementara Iran mencapai 1 juta jiwa sebagai akibat dari taktik militer Iran yang banyak mengorbankan tentaranya untuk berhadap-hadapan langsung dengan moncong senjata musuh. Jumlah tersebut belum termasuk mereka yang meninggal kemudian akibat luka parah dan penyakit, termasuk akibat penggunaan senjata kimia Irak yang berdampak jangka panjang.
- Perpecahan di negara Arab menimbulkan rasa tidak nyaman dan suasana kehidupan sehari-hari yang tegang dan tercekang yang disebabkan adanya perperangan.
- Irak yang menuduh Iran terlibat dalam percobaan pembunuhan terhadap Deputi Perdana Menteri Irak sehingga langsung mendeportasi ribuan warga Syi’ah berdarah Iran keluar dari Irak.
3. Dampak Bidang Politik :
- Amerika Serikat semakin kuat pengaruhnya di Timur Tengah.
- Adanya sikap anti USA dari pihak Irak (Amerika Serikat).
- Proses jalannya pemerintahan di kedua negara menjadi kurang efisien dan terhambat karena adanya perang ini.
4. Dampak Bidang Kemiliteran :
- Banyak korban peperangan ini tidak hanya dari non sipil namun juga dari kemiliteran di kedua negara yang banyak tewas dan luka-luka serta cacat fisik dalam peperangan ini.
- Banyak persenjataan dan alat-alat kemiliteran yang digunakan pada peperangan ini rusak berat atau bahkan tidak dapat digunakan lagi.

Daftar pustaka
  1. http://nurulzullaeqa.blogspot.co.id/2014/06/perang-antara-irak-dan-iran-tahun-1980.html
  2. http://emhasejarawan.blogspot.co.id/2015/04/contoh-makalah-tentang-perang-irak-iran.html


Senin, 08 Agustus 2016

SEJARAH PERANG AFGHANISTAN

SEJARAH PERANG AFGHANISTAN
post by : malik k.b
Anggota  :
1.      Jihan Nurom Bidayah                  (17)
2.      Malik Kamaludin Bazar               (18)
3.      Migrananto Ridho N.                   (19)
4.      Muhammad Ardhian N.F.            (20)

Perang Afghanistan
Perang Soviet-Afganistan merupakan masa sembilan tahun di mana Uni Soviet berusaha mempertahankan pemerintahan Marxis Afganistan, yaitu Partai Demokrasi Rakyat Afganistan, menghadapi mujahidin Afganistan

Selasa, 02 Agustus 2016

NO ALLIANCE NO CRY

Disusun Oleh:
1.      Hasan Hendratmoko        (14)
2.      Isniyatin Nur Yusrina      (16)
3.      Puspasari Wahyu N.        (24)
Kelas: XII IPS 2


Gerakan Non Blok (GNB)
Dalam istilah internasionalnya disebut “Non Aligned Movement” (NAM) merupakan suatu organisasi atau gerakan yang tidak memihak pada aliansi atau blok tertentu.
Terbentuknya GNB diawali dengan adanya KAA yang diselenggarakan di Bandung pada tanggal 18-24 April 1955. Konferensi tersebut dihadiri oleh negara-negara Benua Asia dan Afrika. Dalam Dasasila Bandung dikemukakan tentang kemerdekaan, hidup berdampingan secara damai, serta kerjasama internasional untuk keuntungan bersama dan perdamaian.
Berdasarkan hasil KAA tersebut, lahirlah organisasi GNB pada tahun 1961. GNB diprakarsai oleh pemimpin-pemimpin negara merdeka yaitu:
1.      Presiden Gamal Abdul Nasser (Mesir)
2.      Presiden Kwame Nkrumah (Ghana)
3.      Presiden Joseph Broz Tito (Yugoslavia)
4.      Perdana Menteri Pandit Jawaharlal Nehru (India)
5.      Presiden Sukarno (Indonesia)

Latar belakang berdirinya GNB
1.      Adanya persamaan nasib dan kepentingan bangsa Asia Afrika.
2.      Terjadinya ketegangan dunia akibat persaingan dua negara adidaya, Amerika Serikat dan Uni Soviet.
3.      Krisis Kuba tahun 1961.
4.      Ditandatanganinya dokumen Brioni tahun 1956, tujuannya untuk mempersatukan negara-negara non blok.

Pengaruh atau dampak adanya GNB
1.      Pernyataan dari kedua negara adikuasa untuk mengurangi penggunaan senjata nuklir.
2.      Meningkatkan kerjasama bidang ekonomi antaranggota GNB dengan negara maju yang tidak tergabung dengan GNB.
3.      Upaya penyelesaian sengketa di Kamboja yang dilakukan secara damai.
4.      Penarikan pasukan Uni Soviet dari Afganistan.
5.      Upaya gencatan senjata antara Iran dan Irak.

Sumber :

           Sejarah peminatan MEDIATAMA