Cari

Kamis, 20 Oktober 2016

Posted By : Muhammad Irfaan Yolanda
Kelompok        : 6
Anggota           :
1.              Ahza Arzanul Haq                                                                                                          (01)
2.              Fuskha Nur Islami                                                                                                           (11)
3.              Muhammad Irfaan Yolanda                                                                                             (22)
4.              Safrida Alivia Sri Ananda                                                                                                (26)

PEMBERONTAKAN PRRI-PERMESTA

Sejarah Latar Belakang Pemberontakan PRRI dan Pemesta                                          

Pemberontakan PRRI dan Permesta dilatarbelakangi oleh pertentangan antara pemerintah pusat dan daerah mengenai otonomi, serta perimbangan keuangan antara pemerintah pusat dan daerah. Sikap ketidakpuasan mereka didukung oleh sejumlah panglima angkatan bersenjata.

Pemberontakan PRRI (Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia)

Gerakan rakyat Sumatra yang tergabung dalam Pemberontakan PRRI ini berawal dengan adanya pembentukan dewan-dewan daerah yang melibatkan beberapa panglima angkatan bersenjata. 

Berikut ini dewan-dewan daerah yang terbentuk.

1.       Dewan Banteng di Sumatra Barat yang dibentuk oleh Letnan Kolonel Achmad Husein pada tanggal 20 Desember 1956.
2.       Dewan Gajah di Medan yang dibentuk oleh Kolonel Maludin Simbolon pada tanggal 22 Desember 1956.

3.       Dewan Garuda di Sumatra Selatan yang dipimpin oleh Letnan Kolonel Barlian pada pertengahan Januari 1957.

Pada tanggal 10 Februari 1958, Achmad Husein mengadakan rapat raksasa di Padang dan mengeluarkan ultimatum pada pemerintah pusat. 

Berikut ini adalah bunyi ultimatum tersebut.

1.       Dalam waktu 5x24 jam Kabinet Djuanda harus mengundurkan diri dan menyerahkan mandatnya kepada presiden.

2.       Mendesak Presiden Soekarno agar menugaskan Moh. Hatta dan Sri Sultan Hamengku Buwono IX untuk membentuk zaken kabinet.

3.       Meminta kepada Presiden Soekarno supaya kembali kepada kedudukannya sebagai presiden konstitusional.

Namun, ultimatum tersebut tidak dihiraukan oleh pemerintah pusat. Akhirnya, pada tanggal 15 Februari 1958, Achmad Husein memproklamasikan “Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) dengan Syafruddin Prawiranegara sebagai perdana menteri. 

Sejarah Latar Belakang Pemberontakan PRRI

Dengan proklamasi ini, PRRI memisahkan diri dari pemerintah pusat. Untuk mengatasi pemberontakan PRRI, pemerintah pusat dengan tegas mengambil tindakan dengan operasi militer yang melibatkan angkatan darat, angkatan laut, dan dibantu oleh rakyat setempat.

Operasi gabungan ini meliputi beberapa operasi penting berikut ini.

1.       Operasi 17 Agustus, yang dipimpin oleh Kolonel Ahmad Yani dengan tugas menumpas pemberontakan PRRI di Sumatra Barat.

2.       Operasi Sapta Marga, yang dipimpin oleh Brigjen Jatikusuma dengan tugas menumpas pemberontakan PRRI di Sumatra Utara.

3.       Operasi Sadar, yang dipimpin oleh Letkol Ibnu Sutowo dengan tugas menumpas pemberontakan PRRI di Sumatra Selatan.

4.       Operasi Tegas, yang dipimpin oleh Letkol Kaharudin Nasution dengan tugas menumpas pemberontakan PRRI di daerah Riau.

Secara berangsur-angsur, satu per satu tokoh-tokoh pemberontak dapat ditangkap dan wilayah pemberontakan dikuasai. Pada tanggal 29 Mei 1958, Achmad Husein dan pasukannya menyerah.

Dengan demikian, berakhirlah pemberontakan PRRI yang mengancam persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia.

Perjuangan Rakyat Semesta (Permesta)
Proklamasi PRRI yang diumumkan pada 15 Februari 1958 di Padang, ternyata mendapat sambutan hangat dari rakyat Indonesia bagian Timur.

Para tokoh militer di Sulawesi mendukung PRRI di Sumatra dan pada tanggal 17 Februari 1959 Letkol. D.J. Somba (Komandan Daerah Militer Sulawesi Utara dan Tengah) mengeluarkan pernyataan untuk memutuskan hubungan dengan pemerintah pusat dan mendukung PRRI.

Kemudian sekelompok militer tersebut kemudian membentuk gerakan yang dinamakan Perjuangan Rakyat Semesta (Permesta) pada 2 Maret 1957 di Makasar. Gerakan Permesta ini dipimpin oleh Letkol. Ventje Sumual.

Untuk menghancurkan gerakan yang nyata-nyata bersifat separatis ini, pemerintah pusat mengirimkan pasukan TNI dan menggelar operasi militer yang dinamakan Operasi Merdeka. Operasi ini dipimpin oleh Letkol.

Rukminto Hendraningrat. Dalam pelaksanaan operasi ini, diketahui ternyata Permesta mendapat bantuan dari negara asing.

Hal ini terbukti dengan ditembak jatuhnya pesawat yang dikemudikan A.L. Pope (warga negara AS) pada tanggal 18 Mei 1958 di Ambon. Akhirnya, pada bulan Agustus 1958, pemberontakan Permesta dapat dilumpuhkan.
Peristiwa Pemberontakan PRRI dan Permesta Tahun 1958
Berikut ini merupakan pembahasan tentang peristiwa pemberontakan PRRI dan Permesta pada tahun 1958, pemberontakan permesta, tujuan pemberontakan prri-permesta, penyimpangan pada masa demokrasi terpimpin.


Pemberontakan PRRI
Pemberontakan PRRI dan Permesta berhubungan satu sama lain. Pemberontakan PRRI dan Permesta terjadi di tengah-tengah situasi politik yang sedang bergolak, pemerintahan yang tidak stabil, masalah korupsi, perdebatan-perdebatan dalam konstituante.

Penyebab langsung terjadinya pemberontakan adalah pertentangan antara pemerintah pusat dan beberapa daerah mengenai otonomi serta perimbangan keuangan antara pusat dan daerah.

Semakin lama pertentangan itu semakin meruncing. Sikap tidak puas tersebut didukung oleh sejumlah panglima angkatan bersenjata.

Pada tanggal 9 Januari 1958, diadakan suatu pertemuan di Sungai Dareh, Sumatera Barat. Pertemuan itu dihadiri tokoh-tokoh militer dan sipil.

Tokoh-tokoh militer yang hadir, antara lain: Letkol Achmad Husein, Letkol Sumual, Kolonel Simbolon, Kolonel Dachlan Djambek, dan Kolonel Zulkifli Lubis.

Tokoh-tokoh sipil yang hadir antara lain: M. Natsir, Sjarif Usman, Burhanuddin Harahap, dan Sjafruddin Prawiranegara. Dalam pertemuan tersebut dibicarakan masalah pembentukan pemerintah baru dan hal-hal yang berhubungan dengan pemerintah baru itu.

Pada tanggal 10 Februari 1958 diadakan rapat raksasa di Padang. Letkol Achmad Husein memberi ultimatum kepada pemerintah pusat yang isinya sebagai berikut.


1.  Dalam waktu 5 x 24 jam Kabinet Djuanda menyerahkan mandat kepada Presiden atau Presiden mencabut mandat Kabinet Djuanda.
2.  Meminta Presiden menugaskan Drs. Moh. Hatta dan Sultan Hamengkubuwono IX untuk membentuk kabinet baru.
3.  Meminta kepada Presiden supaya kembali kepada kedudukannya sebagai Presiden konstitusional.

Ultimatum tersebut ditolak. Letkol Achmad Husein, Kolonel Zulkifli Lubis, Kolonel Dachlan Djambek, dan Kolonel Simbolon dipecat.

Pada tanggal 15 Februari 1958, Achmad Husein memproklamirkan berdirinya Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia (PRRI). Proklamasi itu diikuti dengan pembentukan kabinet.

Kabinet itu dipimpin oleh Sjafruddin Prawiranegara sebagai Perdana Menteri. Pusat PRRI berkedudukan di Padang.

Dengan proklamasi itu, PRRI memisahkan diri dari pemerintah pusat. Proklamasi PRRI diikuti Sulawesi Utara dan Sulawesi Tengah.

Penumpasan Pemberontakan PRRI
Untuk mengatasi gerakan ini, TNI melancarkan operasi gabungan AD, AL, dan AU dikenal dengan nama Operasi 17 Agustus. Operasi ini dipimpin oleh Kolonel Akhmad Yani. Di Sumatera Utara, Operasi Sapta Marga dilaksanakan di bawah pimpinan Brigadir Jenderal Jatikusumo.

Di Sumatera Selatan, Operasi Sadar dipimpin Letnan Kolonel Dr. Ibnu Sutowo. Tujuan operasi militer ini adalah menghancurkan kekuatan pemberontak dan mencegah campur tangan asing.

Berangsur-angsur wilayah pemberontak dapat dikuasai. Pada tanggal 29 Mei 1958, Achmad Husein dan pasukannya secara resmi menyerah. Penyerahan diri itu disusul para tokoh PRRI lainnya.


Pemberontakan Permesta
Para tokoh militer di Sulawesi mendukung PRRI di Sumatera. Pada tanggal 17 Februari 1958, Letkol D.J. Somba (Komandan Daerah Militer Sulawesi Utara dan Tengah) memutuskan hubungan dengan pemerintah pusat dan mendukung PRRI.

Para tokoh militer di Sulawesi memproklamasikan Piagam Perjuangan Rakyat Semesta (Permesta). Pelopor Permesta adalah Letkol Vence Sumual. Pemberontak Permesta menguasai daerah Sulawesi Tengah dan Sulawesi Utara.

Untuk menghancurkan gerakan ini pemerintah membentuk Komando Operasi Merdeka. Misi ini dipimpin oleh Letkol Rukminto Hendraningrat. Pada bulan April 1958, Operasi Merdeka segera dilancarkan ke Sulawesi Utara.

Ternyata dalam petualangannya, Permesta mendapat bantuan dari pihak asing. Hal ini terbukti saat ditembak jatuhnya sebuah pesawat pada tanggal 18 Mei 1958 di atas Ambon. Ternyata pesawat itu dikemudikan A. L. Pope seorang warga negara Amerika Serikat.

Di bulan Agustus 1958 pemberontakan Permesta dapat dilumpuhkan walaupun sisa-sisanya masih ada sampai tahun 1961. Pemerintah memberi kesempatan kepada pengikut PRRI/Permesta untuk kembali ke pangkuan ibu pertiwi.

Pemberontakan PRRI dan Permesta - Penyebab langsung pemberontakan PRRI/Permesta adalah adanya hubungan yang tidak harmonis antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah terutama di Sumatra dan Sulawesi mengenai masalah otonomi daerah serta perimbangan keuangan antara pusat dan daerah. Sikap tidak puas tersebut mendapat dukungan dari sejumlah perwira militer. Para panglima militer itu membentuk dewan sebagai berikut.

a. Dewan Banteng dibentuk tanggal 20 Desember 1956 di Sumatra Barat oleh Letnan Kolonel Ahmad Husein.
b. Dewan Gajah dibentuk tanggal 20 Desember 1956 di Sumatra Barat oleh Letnan Kolonel Maludin Simbolon.
c. Dewan Garuda dibentuk pada pertengahan bulan Januari 1957 oleh Letnan Kolonel Berlian.
d. Dewan Manguni dibentuk pada tanggal 17 Februari 1957 di Manado oleh Mayor Somba.

Kemudiann para tokoh militer dan sipil pada tanggal 9 Januari 1958 mengadakan pertemuan di Sungai Dareh, Sumatra Barat. Dalam pertemuan tersebut dibicarakan masalah pembentukan pemerintah baru dan hal-hal yang berhubungan dengan pemerintah baru tersebut.
prri/permesta
prri/permesta
Pada tanggal 15 Februari 1958, Letnan Kolonel Ahmad Husei memproklamasikan berdirinya Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) dengan Perdana Menteri Syafruddin Prawiranegara.

Untuk menghadapi pemberontakan PRRI, pemerintah melakukan Operasi 17 Agustus yang dipimpin oleh Letnan Kolonel Ahmad Yani. Tujuan operasi ini adalah untuk menghancurkan kekuatan pemberontak dan mencegah campur tangan asing.

Sementara itu, setelah dibentuk Dewan Manguni, para tokoh militer di Sulawesi memproklamasikan Piagam Perjuangan Rakyat Semesta (Permesta). Proklamasi di Sulawesi dipelopori oleh Letnan Kolonel Ventje Sumual Panglima Wirabhuana. Permesta kemudian bergabung dengan PRRI.

Untuk menumpas pemberontakan ini, pemerintah malakukan operasi militer gabungan yang bernama Operasi Merdeka dimpimpin oleh Letnan Kolonel Rukminto Hendranigrat. Operasi menumpas Permesta ini sangat kuat karena musuh memiliki persenjataan modern buatan Amerika Serikat yang terbukti dengan ditembaknya Pesawat Angkatan Udara Revolusioner (Aurev) yang dikemudikan oleh Allan L. Pope seorang warna negara Amerika Serikat.


Pesawat itu ditembak pada tanggal 18 Mei 1958 di atas kota Ambon. Pada bulan Agustus 1958, pemberontakan Permesta baru dapat ditumpas. Kemudian pada tahun 1961, pemerintah membuka kesempatan kepada sisa-sisa pendunkung Permesta untuk kembali ke Republik Indonesia.

Posted By : Muhammad Irfaan Yolanda

Kelompok 1
1.      Bima Setya Aji                             (07)
2.      Diza Wahyu Ardiansyah             (09)
3.      Gerano Sukarno                           (13)
4.      Hasan Hendratmoko                    (14)
5.      Isniyatin Nur Yusrina                  (16)
6.      Muhammad Ichbal                       (21)
7.      Puspasari Wahyu Nugraheni       (24)
8.      Satrio Budi Utomo                       (27)
Kelas: XII IPS 2

Serangan Umum 4 Hari di Kota Solo

Serangan umum menyerbu Kota Solo berlangsung pada tanggal 7-10 Agustus 1949 secara

gerilya oleh para pejuang, pelajar, dan mahasiswa. Mereka berhasil menduduki markas Belanda di Solo dan sekitarnya. Mereka yang melakukan serangan bergabung dalam Detasemen II Brigade 17 Surakarta yang dipimpin oleh Mayor Achmadi. Untuk menggempur markas penjajah, serangan dilakukan dari 4 penjuru, yaitu:
1.      Rayon I dari Polokarto dipimpin oleh Suhendro
2.      Rayon II dipimpin oleh Sumarto
3.      Rayon III dipimpin oleh Komandan Prakoso
4.      Rayon IV dipimpin oleh A Latif
5.      Rayon Kota dipimpin oleh Hartono
Pada 7 Agustus 1949 pukul 06.00 serempak serangan dimulai dengan menyerbu kedudukan tentara Belanda. Serangan datang dari penjuru kota, sehingga memaksa tentara Belanda hanya mampu bertahan di markasnya. Pukul 15.00 Belanda melakukan serangan balasan menggunakan pesawat terbang dan melakukan pengeboman.
Pada 8 Agustus 1949 para gerilyawan telah memutuskan saluran komunikasi antar markas Belanda. Serangan Kota Solo semakin gencar, selama 2 hari Belanda mendatangkan pesawat Mustang untuk melakukan straffing pada lokasi yang diduga sebagai konsentrasi para gerilyawan. Pada hari ketiga didatangkan pasukan infanteri, kavaleri, dan pasukan baret hijau dari Semarang tapi tidak masuk Kota Solo karena medan jalan yang rusak dan dihadang pasukan TNI di Boyolali.
Pada hari ketiga, 9 Agustus 1949 dikisahkan, Belanda semakin membabi-buta dalam membalas serangan, dibantu oleh pasukan KST (Korps Spesiale Troepen), menembak setiap lelaki yang dijumpainya. Dalam peristiwa ini, seorang komandan regu Seksi I Kompi I, Sahir gugur di daerah pertempuran Panularan.
Pada 10 Agustus 1949 adalah puncak serangan, dengan ikutsertanya pasukan TNI Brigarder V yang dipimpin Letkol Slamet Riyadi. Pertempuran 4 hari itu sangat mengejutkan Kolonel Ohl, Komandan Tentara Kerajaan (Koninjkle Leger) di Surakarta. Dia sama sekali tidak menduga bahwa pasukan RI masih mampu melakukan serangan militer dalam skala besar.
Dalam pertempuran selama empat hari tersebut, 109 rumah penduduk porak poranda, 205 penduduk meninggal karena aksi teror Belanda, 7 serdadu Belanda tertembak dan 3 orang tertawan sedangkan di pihak TNI 6 orang gugur. Peristiwa perang 4 hari Surakarta ini sangat berpengaruh dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia. Peristiwa ini berujung pada Kedaulatan Republik Indonesia 27 Desember 1949 dalam KMB. Peristiwa ini sama pentingnya dengan Proklamasi. Peristiwa ini adalah peristiwa lahirnya Republik Indonesia yang diakui oleh semua negara di dunia.

Sumber:


Posted By : Muhammad Irfaan Yolanda
1.     Ahza Arzanul Haq
2.     Argayoga Laksana Satya Graha
3.     Bagaskara Dwi Wahyujati
4.     Malik Kamaludin Bazar
5.     Muhammad Irfaan Yolanda
6.     Riska Ayu wulandari
7.     Septian Adi Hananto
8.     Wasis Singih Sasono


SERANGAN UMUM EMPAT HARI
SURAKARTA
Serangan Umum ini  berlangsung pada tanggal 7 -10 Agustus 1949 secara gerilya oleh para pejuang, pelajar, dan mahasiswa. Pelajar dan mahasiswa yang berjuang tersebut kemudian dikenal sebagai tentara pelajar. Mereka berhasil membumihanguskan dan menduduki markas-maskas Belanda di Solo dan sekitarnya. Menurut catatan sejarah, serangan itu digagas di kawasan Monumen Juang 45, BanjarsariSolo. Untuk menyusun serangan, para pejuang berkumpul di Desa WonosidoKabupaten Sragen dari situlah ide untuk melakukan serangan umum dikobarkan.
Mereka yang melakukan serangan bergabung dalam Detasemen II Brigade 17 Surakarta yang dipimpin Mayor Achmadi. Untuk menggempur markas penjajah, serangan dilakukan dari empat penjuru kota Solo. Rayon I dari Polokarto dipimpin Suhendro, Rayon II dipimpin Sumarto). Sementara itu Rayon III dengan komandan Prakosa, Rayon IV dikomandani A Latif (almarhum), serta Rayon Kota dipimpin Hartono. Menjelang pertengahan pertempuran Slamet Riyadi dengan pasukan Brigade V/Panembahan Senopati turut serta dan menjadi tokoh kunci dalam menentukan jalannya pertempuran.
Kegagalan Tentara Kerajaan Belanda mempertahan Kota Solo menggoyahkan keyakinan Parlemen Belanda atas kinerja tentaranya. Sehingga memaksa perdana menteri Drees terpaksa mengakomodasi tuntutan delegasi Indonesia sebagai syarat sebelum mereka bersedia menghadiri Konferensi Meja Bundar

Awal Mula Serangan Umum Solo
Pada awal Agustus 1949, Letnan Kolonel Slamet Riyadi sedang berada di pos Rayon I, wilayah Bekonang, sekitar delapan kilometer sebelah timur kota Solo. Pada saat bersamaan, ia ikut mendengarkan laporan yang disampaikan oleh KaStaf Rayon I, kepada yang diwakilinya yaitu komandan Rayon I (Rayon Timur), dalam rapat yang diadakan oleh Mayor Akhmadi selaku komandan SWK 106 Arjuna. Dalam rapat komando yang mengundang seluruh komandan Rayon itu (seluruhnya ada lima Rayon), Komandan SWK 106 Arjuna mengeluarkan surat Perintah Siasat No. 1/8/Swk/A-3/Ps-49, tentang serangan besar-besaran ke dalam kota, pada 7 Agustus 1949. Segera setelah itu Slamet Riyadi kembali ke markas komandonya dan mengeluarkan Surat Perintah No. 0181Co.P.P.SJ 49, tertanggal 8 Agustus 1949, berisi perintah mengadakan serangan perpisahan tanggal 10 Agustus 1949, menjelang dilaksanakannya gencatan senjata tanggal 11 Agustus 1949 (berlaku mulai pukul 00.00.
Penting diketahui, bahwa perintah siasat yang dikeluarkan oleh Mayor Akhmadi tersebut hanya ditujukan bagi seluruh pasukan yang dipimpinnya, yaitu Sub Wehrkreise (SWK) 106 Arjuna, yang terdiri dari lima rayon, dengan wilayah operasi kota Solo dan sekitarnya. Situasi yang berkembang di awal Agustus 1949 itu, berkaitan dengan perintah Panglima Tertinggi Angkatan Perang/Presiden RI tentang penghentian permusuhan, yang sempat memunculkan terjadinya kesalah-pahaman di antara pimpinan WK I (Letnan Kolonel Slamet Riyadi) dan pimpinan SWK 106 Arjuna (Mayor Akhmadi), demikian pula dengan jajaran di bawahnya. Persoalan ini akhirnya dapat diselesaikan oleh staf Gubernur Militer II dan Gubernur Militer II selanjutnya menyerahkan kebijaksanaan penanggulangan gencatan senjata kepada Mayor Akhmadi, dengan kedudukan sebagai Komandan KMK (komando militer kota) Solo.



Jalannya Pertempuran
Pada tanggal 7 agustus 1949 dimulai SU pada pukul 06.00 pagi. Pada hari tersebut pasukan SWK 106 Arjuna telah menyusup dahulu dan mulai menguasai kampung-kampung dalam kota Solo. Ketika waktu ditetapkan telah tiba pasukan TNI yang telah masuk kota menyerang dari semua penjuru, memaksa tentara Belanda terkonsentrasi di markas-markas mereka. Serangan itu meliputi markas komando KL 402 Jebres, sebuah pos di Jurug, Jagalan, kompleks BPM-Balapan, serta markas artileri medan di Banjarsari.
Pada hari kedua 8 Agustus 1949, pertempuran berlangsung hingga tengah malam, TNI membantu serangan itu dengan memasang berbagai rintangan di jalan-jalan di sekitar daerah Pasar Kembang. Namun Belanda mencium rencana itu, kemudian menangkapi orang-orang yang berada di sekitarnya. Terdapat 26 orang, termasuk wanita dan anak-anak yang berhasil ditangkap pihak Belanda, 24  di antaranya dihabisi. Ke 24 orang itu terdiri dari 10 orang laki-laki, termasuk seorang anggota TNI/TP, 6 orang wanita, dan 8 anak-anak. Pada saat itulah seluruh pasukan dari SWK (Sub Wehrkreis) 100 sampai 105 mulai dikerahkan untuk membantu serangan hari pertama dengan sasaran seluruh kota Solo dan Letnan Kolonel Slamet Riyadi mulai memegang komando mengantikan Mayor Akhmadi.
Pada hari ketiga, 9 Agustus 1949 dikisahkan, Belanda semakin membabi-buta dalam membalas serangan, dibantu oleh pasukan KST (Korps Spesiale Troepen), menembak setiap lelaki yang dijumpainya. Dalam peristiwa ini, seorang komandan regu Seksi I Kompi I, Sahir gugur di daerah pertempuran Panularan.
Hari keempat, 10 Agustus 1949 sebagaimana diperintahkan oleh komandan Wehrkreise I Brigade V, Letnan Kolonel Slamet Riyadi, TNI melaksanakan serangan perpisahan menandai akhir masa serangan umum empat hari. Dengan demikian meningkatkan moril pasukan gerilya TP. Pertempuran itu terus berlangsung hingga tengah malam, menjelang dimulainya masa gencatan senjata pada pukul 00.00 tanggal 11 Agustus 1949. Sementara itu pihak tentara Belanda, sebagai pembalasan atas tewasnya 2 anggota KL, pada hari yang semestinya sudah berlaku gencatan senjata, yaitu pukul 11.00, memaksa keluar rumah baik penduduk lelaki maupun wanita, untuk kemudian membantainya, serta membakar rumah mereka dengan alat penyembur api.
Secara taktis, serangan hari keempat ini berhasil menguasai seluruh wilayah kota. Pada kesempatan itu, Letnan Kolonel Slamet Riyadi selaku komandan Wehrkreise I  memerintahkan kepada Mayor Akhmadi selaku komandan SWK 106, untuk menarik seluruh pasukan ke garis tepi kota, sebagai pelaksanaan  gencatan senjata. Memang pada kenyataannya pelaksanaan gencatan senjata tidak sesegera itu berlangsung dengan aman. Masih terjadi beberapa insiden yang melibatkan kedua belah pihak yang bertempur. Tanpa mengindahkan mulai berlakunya masa gencatan senjata, pasukan yang dikenal kejam ini melakukan pembantaian di markas PMI, di wilayah Gading. Adalah kediaman Dr. Padmonegoro, ketua PMI cabang Surakarta yang menjadi sasaran serangan itu, saat itu menjadi tempat mengungsi sebagian penduduk sekitar. Kekejaman tentara Baret Hijau Belanda ditunjukkan dengan membantai para pengungsi dengan tanpa melepaskan tembakan sama sekali, namun dengan cara menyembelihnya. Dalam pembantaian dini hari ini, tercatat 14 petugas PMI gugur, ditambah 8 orang pengungsi tewas, sementara 3  orang lainnya yang juga menjadi korban penyembelihan tidak sampai tewas.





Pengaruh Serangan Umum Solo

Serangan Umum Tentara Pelajar Solo (DETASEMEN-II / BRIGADE-17 TNI), 8 Februari 1949, 2 Mei 1949 dan 7 – 10 Agustus 1949 yang kala itu terbukti berhasil memperkuat posisi tawar politik perjuangan diplomasi delegasi Republik Indonesia di Konferensi Meja Bundar (KMB), Den Haag, sehingga berujung dicapainya Kedaulatan Republik Indonesia 27 Desember 1949 dapat berdampingan dengan Indonesia Merdeka 17 Agustus 1945. Hal ini terjadi karena Belanda sadar bila mereka tidak akan mungkin menang secara militer, mengingat Solo yang merupakan kota yang pertahanannya terkuat pada waktu itu berhasil dikuasai oleh TNI yang secara peralatan lebih tertinggal tetapi didukung oleh rakyat dan dipimpin oleh seorang pemimpin yang andal seperti Slamet Riyadi.