Cari

Sabtu, 15 Oktober 2016

KELOMPOK 5
PERISTIWA WESTERLING DI MAKASSAR
Nama :
1.             Audita Kusuma Astuti              (05)
2.             Bagaskara Dwi Wahyu Jati       (06)
3.             Dyah Kusuma Al Afsyah          (10)
4.             Puspasari Wahyu Nugraheni     (24)
5.             Wasis Singgih Sasono               (31)

Kelas             : XII IPS 2

Latar Belakang
Peristiwa bersejarah ini, diawali kedatangan sebanyak 123 tentara pasukan Depot Speciale Troepen dipimpin Kapten Westerling, 5 Desember 1946 di kota Makassar. Pasukan ini diperintahkan untuk membantu tentara NICA (Nederlands Indisch Civil Administration) yang mendapat perlawanan pejuang dan rakyat di Sulsel.
Setelah tentara NICA mendapat bantuan dari Westerling dan pasukannya, keinginan penguasaan Belanda terhadap wilayah Indonesia khusunya di Sulsel makin tampak. Gubernur Jenderal Belanda mengeluarkan surat keputusan No.1 Stbl. No.139 Tahun 1946, menyatakan Keadaan Darurat Perang (SOB) mulai 11 Desember 1946 di seluruh wilayah Sulsel, termasuk yang kini telah menjadi bagian dari Provinsi Sulawesi Barat.

Proses
1.             Tahap pertama
Aksi pertama operasi Pasukan Khusus DST dimulai pada malam tanggal 11 menjelang 12 Desember. Sasarannya adalah desa Batua serta beberapa desa kecil di sebelah timur Makassar dan Westerling sendiri yang memimpin operasi itu
2.             Tahap kedua
Setelah daerah sekitar Makassar dibersihkan, aksi tahap kedua dimulai tanggal 19 DesemberHYPERLINK "https://id.wikipedia.org/wiki/1946" \o "1946"1946. Sasarannya adalah Polobangkeng yang terletak di selatan Makassar. Dalam penyerangan ini, Pasukan DST menyerbu bersama 11 peleton tentara KNIL dari Pasukan Infanteri XVII. Penyerbuan ini dipimpin oleh Letkol KNIL Veenendaal. Selanjutnya pola yang sama seperti pada gelombang pertama diterapkan oleh Westerling. Dalam operasi ini 330 orang rakyat tewas dibunuh.
3.             Tahap ketiga
Aksi tahap ketiga mulai dilancarkan pada 26 Desember 1946 terhadap Gowa dan dilakukan dalam tiga gelombang, yaitu tanggal 26 dan 29 Desember serta 3 JanuariHYPERLINK "https://id.wikipedia.org/wiki/1947" \o "1947"1947. Di sini juga dilakukan kerja sama antara Pasukan Khusus DST dengan pasukan KNIL. Korban tewas di kalangan penduduk berjumlah 257 orang.


Pengaruh
Dengan keberhasilan menumpas para ekstrimis di Sulsel, reputasi Pasukan Khusus DST dan Westerling melambung tinggi di kalangan Belanda.Westerling memegang komando pasukan yang lebih besar dan lebih hebat dan pangkatnya menjadi Kapten.
Tahun 1947, delegasi Republik Indonesia menyampaikan kepada Dewan Keamanan PBB, korban pembantaian terhadap penduduk, yang dilakukan oleh Kapten Raymond Westerling sejak bulan Desember 1946 di Sulawesi Selatan mencapai 40.000 jiwa.
Perbuatan Westerling merupakan salah satu pelanggaran HAM. Hal ini menyebabkan delegasi Indonesia menuntut atas penegakan HAM. Namun, perbuatan Westerling dapat lolos dari tuntutan pelanggaran HAM karena sebenarnya aksi terornya memperoleh izin dari Letnan Jenderal Spoor dan Wakil Gubernur Jenderal Dr. Hubertus Johannes van Mook. Jadi yang sebenarnya bertanggungjawab atas pembantaian rakyat Sulawesi Selatan adalah Pemerintah dan Angkatan Perang Belanda.

Hal Yang Menarik dalam Peristiwa Ini

1.             Dalam peristiwa heroik ini, terdapat perselisihan jumlah korban antara pemerintah Indonesia dengan Belanda. Dari pihak Indonesia, menyatakan bahwa korban peristiwa ini mencapai 40.000 jiwa, namun Belanda  memperkirakan sekitar 3.000 rakyat Sulawesi tewas dibantai oleh Pasukan Khusus pimpinan Westerling, sedangkan Westerling sendiri mengatakan, bahwa korban akibat aksi yang dilakukan oleh pasukannya "hanya" 600 orang. Jumlah korban dalam peristiwa ini tidak diketahui secara pasti karena keterbatasan data yang akurat.
2.             Untuk mengenang kejadian mnegerikan ini, pemerintah daerah Sulawesi Selatan membangun monumen yang bernama "Monumen Korban 40.000 Jiwa" atau sering disebut "Monumen Korban Westerling" dan berlokasi di jalan Langgau, ke arah utara kota Makassar tidak jauh dari lapangan Karebosi.
3.             Menurut penjaga monumen, dahulu disekitar monumen ini terdapat salah satu lubang tempat dimana korban-korban Westerling dikuburkan secara masal, namun lubang tersebut sudah ditutup dan tidak boleh diperlihatkan secara umum lagi dengan alasan semua kenangan pahit tersebut sudah dikubur dan tidak perlu diperlihatkan kembali.
4.             Untuk mengenang peristiwa ini, rakyat Sulawesi mengibarkan bendera setengah tiang di rumah-rumah setiap tanggal 11 Desember.

sumber :









Posted By : Muhammad Irfaan Yolanda
Pertempuran Medan Area




KELOMPOK 2

Anggota :
1.           Ahza Arzanul Haq                   (01)
2.           Fuskha Nur Islami                    (11)
3.           Gerano Sukarno                       (13)
4.           Hasan Hendratmoko                 (14)
5.           Migrananto Ridho Nugraha      (19)
6.           Septiani Eka Wahyu P.             (28)



SMA N 1 BOYOLALI

A.         Latar Belakang
Latar belakang pertempuran Medan Area, antara lain:
1.            Bekas tawanan yang menjadi arogan dan sewenang-wenang.
2.            Ulah seorang penghuni hotel yang merampas dan menginjak-injak lencana merah putih. Insiden ini terjadi di hotel di Jalan bali, Medan pada tanggal 13 Oktober 1945. Saat itu seorang penghuni hotel (Pasukan NICA) merampas dan menginjak-injak lecana Merah Putih yang dipakai pemuda Indonesia. Hal ini mengundang kemarahan para pemuda. Akibatnya, terjadi perusaka dan penyerangan terhadap hotel yang banyak dihuni pasikan NICA.
3.            Pemberian batas daerah Medan secara sepihak oleh Sekutu dengan memasang papan pembatas yang bertuliskan “Fixed Boundaries Medan Area” di sudut-sudut pinggiran Kota Medan.

Pada tanggal 18 Oktober 1945 Sekutu mengeluarkan ultimatum yang isinya:
1.            melarang rakyat membawa senjata
2.            semua senjata harus diserahkan kepada pasukan Sekutu

Karena ultimatumnya tidak dihiraukan oleh rakyat Medan, Pasukan Sekutu mengerahkan kekuatannya untuk menggempur kota Medan dan sekitarnya. Serangan Sekutu ini dihadapi dengan gagah berani oleh pejuang RI dibawah koordinasi kolonel Ahmad Tahir.

B.            SEBAB-SEBAB PERTEMPURAN
1)            Tawanan perang yang dibebaskan sekutu dipersenjatai & bersikap congkak sehingga menyebabkan terjadinya insiden di beberapa tempat
2)            Penghuni hotel (pasukan NICA) merampas dan menginjak-injak lencana Merah Putih yang dipakai pemuda Indonesia. Hah ini mengundang kemarahan para pemuda Indonesia. Akibatnya terjadi perusakan dan penyerangan terhadaap hotel yang banyak dihuni pasukan NICA. Pada tanggal 1 Desember 1945, pihak sekutu memasang papan yang bertuliskan “Fixed Boundaries Medan Area” di beberapa sudut kota. Sejak itulah Medan Area menjadi terkenal. Pasukan Inggris dan NICA mengadakan pembersihan terhadap unsur Republik yang berada di kota Medan.

C.           JALANNYA PERTEMPURAN
Pd tgl 18 Okt 1945, Sekutu mengultimatum rakyat Medan untuk menyerahkan senjatanya.NICA melakukan aksi teror yg menyebabkan pecahnya pertempuran shg banyak korban di pihak Inggris.
Tgl 1 Des 1945 Sekutu memasang papan-papan yang bertuliskan Fixed Boundaries Medan Area di berbagai sudut pinggiran kota Medan.
                                                        
Pada bulan April 1946 pasukan Sekutu berhasil mendesak pemerintah RI keluar Medan. Pasukan Inggris dan NICA mengadakan pembersihan terhadap unsur Republik yang berada di kota Medan. Hal ini jelas menimbulkan reaksi para pemuda dan TKR untuk melawan kekuatan asing yang mencoba berkuasa kembali.

D.           AKIBAT PERTEMPURAN
Pertempuran Medan Area berakhir pada 15 Februari 1947 pukul 24.00 setelah ada perintah dari Komite Teknik Gencatan Senjata untuk menghentikan kontak senjata. Sesudah itu Panitia Teknik genjatan senjata melakukan perundingan untuk menetapkan garis-garis demarkasi yang definitif untuk  Medan Area. Dalam perundingan yang berakhir pada tanggal 10 Maret 1947 itu, ditetapkanlah suatu garis demarkasi yang melingkari kota Medan dan daerah koridor Medan Belawan. Panjang garis demarkasi yang dikuasai oleh tentara Belanda dengan daerah yang dikuasai oleh tentara Republik seluruhnya adalah 8,5 Km. Pada tanggal 14 Maret 1947 dimulailah pemasangan patok-patok pada garis demarka­si itu. Akan tetapi kedua pihak, Indonesia dan Belanda, selalu bertikai mengenai garis demarkasi ini. Empat bulan setelah akhir pertempuran ini, Belanda melaksanakan Operatie Product atau disebut Agresi Militer Belanda I.

E.            AKHIR PERTEMPURAN

Pada tgl 10 Agustus 1946 di Tebingtinggi diadakan pertemuan antara komandan-komandan pasukan yang berjuang di Medan Area.Pertemuan tersebut memutuskan dibentuknya satu komando yang bernama Komando Resimen Laskar Rakyat Medan Area. Komando tersebut meneruskan perjuangan di Medan Area.
F.            Info Unik / Tambahan
Keunikannya adalah bersatu padunya rakyat Indonesia tanpa memandang jenis etnis, agama, atau suku bangsa. Ini tampak dari profil para pemimpin perang Medan Area yang berasal dari berbagai suku bangsa Indonesia.Sehingga layak jika pertempuran ini dikenal sebagai salah satu perang kemerdekaan terdahsyat di Indonesia. Tak kalah dengan pertempuran 10 November di Surabaya, peristiwa Bandung Lautan Api, dan Serangan Umum 1 Maret di Yogyakarta.

Sumber :

Posted By         : Muhammad Irfaan Yolanda
Anggota kelompok : 1  Diana Rofita Sari                       (08)
        2. Diza Wahyu A                          (09)
                                3. Gardhika A.E.L                         (12)
                                 4. Iqbal Farhan Hilmy                   (15)
                                5. Isniyatin Nur Yusrina                (16)
                                6. Jihan Nurom Bidayah                (17)
                                7. Sri Agung Winu W                    (30)
                                                XII IPS 2

BANDUNG LAUTAN API
 
Bandung Lautan Api merupakan adalah sebuah sebutan untuk perisiwa terbakarnya kota Bandung, Provinsi Jawa Barat, Indonesia dalam upaya mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Pembakaran ini dilakukan oleh penduduk Bandung sebagai bentuk tanggapan atas ultimatum oleh sekutu yang memerintahkan untuk mengosongkan Bandung. Peristiwa Bandung Lautan Api terjadi pada bulan Maret 1946. Sejarah besar ini dilakukan oleh para penduduk Bandung yang jumlahnya sekitar 200.000 orang. Mereka, dalam waktu tujuh jam melakukan pembakaran rumah dan harta benda mereka sebelum akhirny pergi meninggalkan Bandung.
      I.            Latar Belakang Bandung Lautan Api
Peristiwa Bandung Lautan Api ini dilatarbelakangi oleh beberapa hal, yakni :
·         Brigade Mac Donald atau sekutu menuntut para penduduk Bandung agar menyerahkan semua senjata dari hasil pelucutan jepang kepada pihak sekutu.
·         Sekutu mengeluarkan ultimatum yang isinya memerintahkan agar kota Bandung bagian utara dikosongkan dari penduduk Indonesia paling lambat tanggal 29 November 1945.
·         Sekutu membagi Bandung menjadi dua sektor, yakni sektor utara dan sektor selatan.
·         Rencana pembangunan kembali markas sekutu di Bandung.
   II.            Kronologi Terjadinya Bandung Lautan Api
Kronologi Bandung Lautan Api dapat dirunut dari peristiwa ketika pasukan sekutu mendarat di Bandung. Pasukan Inggris bagian dari Brigade MacDonald tiba di Bandung pada Oktober 1945.  Para pejuang Bandung kala itu sedang gencar- gencarnya merebut senjata dan kekuasaan dari tangan Jepang.

Hubungan antara pemerintah RI dengan sekutu pun juga sedang tegang. Di saat seperti itu, pihak sekutu menuntut agar semua senjata api yang  ada di tangan penduduk, kecuali TKR dan polisi, diserahkan kepada pihak sekutu.

Namun, sekutu yang baru tiba ini meminta pihak Indonesia untuk menyerahkan semua senjata hasil pelucutan  Jepang ini. Hal ini ditegaskan melalui ultimatum yang dikeluarkan pihak Sekutu. Isi ultimatum tersebut adalah agar senjata hasil pelucutan Jepang segera diserahkan pada Sekutu dan penduduk Indonesia segara mengosongkan kota Bandung paling lambat tanggal 29 November 1945 dengan alasan untuk keamanan rakyat.

Pada malam tanggal 21 November1945, TKR dan badan-badan perjuangan Indonesia melancarkan serangan terhadap kedudukan- kedudukan Inggris di wilayah Bandung bagian utara. Hotel Homann dan Hotel Preanger yang digunakan musuh sebagai markas juga tak luput dari serangan.

Menanggapi serangan ini, tiga hari kemudian, MacDonald menyampaikan ultimatum kepada Gubernur Jawa Barat. Ultimatum ini berisi agar Bandung Utara dikosongkan oleh penduduk Indonesia, termasuk dari pasukan bersenjata. Masyarakat Indonesia yang mendengar ultimatum ini tidak mengindahkannya. Karenanya, pecahlah pertempuran antara sekutu dan pejuang Bandung di tanggal 6 Desember 1945.
Kemudian, di tanggal 23 Maret 1946, sekutu kembali mengulang ultimatumnya, pada saat ini terdapat dua perintah yang berbeda yaitu :
1)       Dari perdana Menteri Amir Syarifudin (Pusat)
Bahwa para pejuang / pasukan RI harus mundur  dari kota Bandung sesuai dengan perjanjian antara pemerintah RI dengan Sekutu yanag saat itu sedang berlangsung di Jakarta.
2)       Dari Panglima TKR Jenderal Sudirman (Jogja)
Bahwa para pejuang/pasukan RI harus mempertahankan Kota bandung sampai titik darah penghabisan.

Menghadapi dua perintah yang berbeda ini, akhirnya pada 24 Maret 1946 pukul 10.00 WIB, para petinggi TRI mengadakan rapat untuk menyikapi perintah PM Sjahril di Markas Divisi III TKR. Rapat ini dihadiri para pemimpin pasukan Komandan Divisi III Kolonel Nasution,  Komandan Resimen 8 Letkol Omon Abdurrahman, Komandan Batalyon I Mayor Abdurrahman, Komandan Batalyon II Mayor Sumarsono, Komandan Batalyon III Mayor Ahmad Wiranatakusumah, Ketua MP3 Letkol Soetoko, Komandan Polisi Tentara Rukana, dan perwakilan tokoh masyarakat dan pejuang Bandung. Ada satu peserta rapat yaitu Rukana mengusulkan untuk meledakkan terowongan sungai Citarum di Rajamandala sehinga airnya merendam Bandung, saking emosinya Rukana menyebut usulnya agar bandung menjadi “lautan api” yang dimaksudsud seharusnya “lautan air”. Usul lain muncul dari tokoh Angkatan Muda Pos Telegrap dan Telepon (AMPTT),  Soetoko,  yang tidak setuju jika hanya TRI saja yang meninggalkan Bandung. Menurutnya, rakyat harus bersama TKR mengosongkan kota Bandung. Namun, akhirnya para pejuang Indonesia memutuskan untuk melancarkan serangan besar - besaran terhadap sekutu di tanggal 24 Maret 1946.

III.            Tujuan membakar Bandung
Para pejuang Bandung memilih membakar Bandung dan kemudian meninggalkannya dengan alasan tertentu. Tujuannya adalah untuk mencegah tentara Sekutu dan tentara NICA Belanda dalam memanfaatkan kota Bandung sebagai markas strategis militer mereka dalam Perang Kemerdekaan Indonesia. Operasi pembakaran Bandung ini disebut sebagai operasi "bumihangus". Keputusan untuk membumihanguskan kota Bandung diambil melalui musyawarah Madjelis Persatoean Perdjoangan Priangan (MP3), yang dilakukan di hadapan semua kekuatan perjuangan pihak Republik Indonesia, tanggal 24 Maret 1946.

Hasil musyawarah tersebut kemudian diumumkan oleh Kolonel Abdoel Haris Nasoetion selaku Komandan Divisi III TRI. Ia juga memerintahkan evakuasi Kota Bandung. Lalu, hari itu juga, rombongan besar penduduk Bandung mengalir. Pembakaran kota berlangsung malam hari sembari para penduduknya pergi meninggalkan Bandung. Melalui siaran RRI pada pukul 14.00, Nasution mengumumkan:  bahwa semua pegawai dan rakyat harus keluar sebelum pukul 24.00, tentara melakukan bumi hangus terhadap objek vital di Bandung agar tidak dipakai Inggris dan NICA.
Saat malam tiba, TRI akan menyerang Bandung. TRI juga mempersiapkan sejumlah titik pengungsian bagi Keresidenan Priangan, Walikota Bandung, Bupati Bandung, Jawatan KA, Jawatan PTT, rumah sakit, dan lain-lain. Pada saat ini ada masyarakat yang mengetahui betul tetapi ada juga yang hanya mendengar desas desus pembakaran kota Bandung, masyarakatpun akhirnya menggungsi . Tempat tujuan pengungsi menyebar, mulai dari Cililin, Ciparay dan Majalaya, Tasikmalaya, Cianjur, Ciwidey, Garut, Sukabumi, bahkan adaya yang mengikuti hingga Jogjakarta.
TRI menjadwalkan peledakan pertama dimulai pukul 24.00 WIB di Gedung Regentsweg, selatan Alun-alun Bandung yaitu Gedung Indische Restaurant (sekarang Gedung BRI), sebagai aba-aba untuk meledakan semua gedung.
Di tengah persiapan itu tiba-tiba terjadi ledakkan. Seorang pejuang, Endang Karmas, mengaku heran dengan adanya ledakan, padahal baru pukul 20.00 WIB. Ledakkan pertama itu terlanjut dianggap aba-aba, sehingga pejuang lain pun tergesa-gesa melakukan pembakaran dan peledakkan gedung. Karena persiapan yang minim, banyak gedung vital yang tidak bisa diledakkan, kalaupun meledak, tidak sanggup merusak bangunan yang terlalu kokoh. Beberapa kemungkinan menjadi pemicu melesetnya jadwal ledakkan dari jadwal semula,  yakni faktor teknis atau keterampilan menguasi bahan peledak yang minim, alat peledak yang kurang, atau ada sabotase oleh musuh untuk menggagalkan sekenario Bandung Lautan Api.Terlebih saat persiapan pengungsian pasukan Gurkha dan NICA terus melakukan provokasi hingga penembakan terhadap para pejuang. Hal itulah yang membuat rencana pembakaran dan penghancuran objek vital tidak berjalan seperti rencana, malah yang terjadi banyak rumah penduduk yang terbakar.

Di tengah situasi genting ini Inggris mulai menyerang sehingga pertempuran sengit terjadi. Pertempuran yang paling seru terjadi di Desa Dayeuhkolot, sebelah selatan Bandung, di mana terdapat pabrik mesiu yang besar milik Sekutu. TRI bermaksud menghancurkan gudang mesiu tersebut. Muhammad Toha dan Ram dua anggota milisi BRI (Barisan Rakjat Indonesia) pun mengajukan diri. Kedua pemuda itu berhasil meledakkan gudang tersebut dengan granat (dinamit) tangan. Gudang besar itu meledak dan terbakar, tetapi kedua pemuda itu pun ikut gugur sebagai pahlawan bangsa.

Strategi operasi bumihangus ini adalah strategi yang tepat karena kekuatan TRI dan milisi rakyat memang tidak sebanding dengan kekuatan pihak Sekutu dan NICA yang besar. Setelah perisitewa Bandung Lautan Api tersebut, kemudian TRI bersama dengan milisi rakyat melakukan perlawanan dari luar Bandung dengan cara bergerilya.
IV.            Asal Julukan Bandung Lautan Api
Istilah atau sebutan ‘Bandung Lautan Api’ terhadap peristiwa ini muncul di harian Suara Merdeka pada tanggal 26 Maret 1946. Saat peristiwa pembakaran itu berlangsung, seorang wartawan muda, Atje Bastaman, menyaksikannya dari bukit Gunung Leutik di sekitar Pameungpeuk, Garut.

Dari puncak itulah, Atje Bastaman melihat Bandung memerah mulai dari Cicadas hingga ke Cimindi. Karenanya, begitu ia tiba di Tasikmalaya, Atje Bastaman dengan penuh semangat segera menuliskan berita tentang peristiwa ini dan memberinya judul "Bandoeng Djadi Laoetan Api".
Akan tetapi, kurangnya ruang untuk tulisan judulnya membuat ia harus membuat judulnya jadi lebih pendek, yakni menjadi "Bandoeng Laoetan Api".
Ada juga yang menyebutkan bahwa kata “ Bandung Lautan Api” berasal dari usalan Rukana yang harusnya beliau berkata “ Bandung Lautan Air ” dari rapat tangal 24 Maret 1964 dimana rapat tersebut baru sengit dan Rukana pun tak sanggup menahan emosi beliau.


Hal yang unik :

 malapetaka lain juga terjadi di kota bandung dimana jebolnya bendungan sungai cikapundungyang menimbulkan bencana banjir besar di kota bandung. Peristiwa itu pada malam hari 25 november 1945. Jebolnya tanggul itu dikaitkan dengan aksi terror dari NICA sehingga memancing amarah rakyat. Jadi selain menjadi lautan api, bandung juga menjadi lautan air.

Kamis, 13 Oktober 2016

Posted By : Muhammad Irfaan Yolanda
Kelompok       : 3
Anggota          :
1.      Bima Setya Aji                                                                                              (07)
2.      Malik Kamaludin Bazar                                                                                (18)
3.      Muhammad Ichbal                                                                                        (21)
4.      Muhammad Irfaan Yolanda                                                                           (22)
5.      Nurun Nubuwati                                                                                            (23)
6.      Safrida Alivia Sri Ananda                                                                             (26)
Puputan Margarana
Latar belakang munculnya puputan Margarana bermula dari Perundingan Linggarjati. Pada tanggal 10 November 1946, Belanda melakukan perundingan linggarjati dengan pemerintah Indonesia. Dijelaskan bahwa salah satu isi dari perundingan Linggajati adalah Belanda mengakui secara de facto Republik Indonesia dengan wilayah kekuasaan yang meliputi Sumatera, Jawa, dan Madura. Dan selanjutnya Belanda diharuskan sudah meninggalkan daerah de facto paling lambat tanggal 1 Januari 1949. Pada tanggal 2 dan 3 Maret 1949 Belanda mendaratkan pasukannya kurang lebih 2000 tentara di Bali yang diikuti oleh tokoh-tokoh yang memihak Belanda. Tujuan dari pendaratan Belanda ke Bali adalah untuk menegakkan berdirinya Negara Indonesia Timur. Pada waktu itu Letnan Kolonel I Gusti Ngurah Rai yang menjabat sebagai Komandan Resiman Nusa Tenggara sedang pergi ke Yogyakarta untuk mengadakan konsultasi dengan Markas tertinggi TRI, sehingga dia tidak mengetahui tentang pendaratan Belanda tersebut.
Di saat pasukan Belanda sudah berhasil mendarat di Bali, perkembangan politik di pusat Pemerintahan Republik Indonesia kurang menguntungkan akibat perundingan Linggajati, di mana pulau Bali tidak diakui sebagai bagian wilayah Republik Indonesia. Pada umumnya Rakyat Bali sendiri merasa kecewa terhadap isi perundingan tersebut karena mereka merasa berhak masuk menjadi bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Terlebih lagi ketika Belanda berusaha membujuk Letnan Kolonel I Gusti Ngurah Rai untuk diajak membentuk Negara Indonesia Timur. Untung saja ajakan tersebut ditolak dengan tegas oleh I Gusti Ngurah Rai, bahkan dijawab dengan perlawanan bersenjata Pada tanggal 18 November 1946. Pada saat itu I Gusti Ngurah Rai bersama pasukannya Ciung Wanara Berhasil memperoleh kemenangan dalam penyerbuan ke tangsi NICA di Tabanan.  Karena geram, kemudian Belanda mengerahkan seluruh kekuatannya di Bali dan Lombok untuk menghadapi perlawanan I Gusti Ngurah Rai dan Rakyat Bali. Selain merasa geram terhadap kekalahan pada pertempuran pertama, ternyata pasukan  Belanda juga kesal karena adanya konsolidasi dan pemusatan pasukan Ngurah Rai  yang ditempatkan di Desa Adeng, Kecamatan Marga, Tabanan, Bali. Setelah berhasil mengumpulkan pasukannya dari Bali dan Lombok, kemudian Belanda berusaha mencari pusat kedudukan pasukan Ciung Wanara.
         Pada tanggal 20 November 1946 I Gusti Ngurah Rai dan pasukannya (Ciung Wanara), melakukan longmarch ke Gunung Agung, ujung timur Pulau Bali. Tetapi tiba-tiba ditengah perjalanan, pasukan ini dicegat oleh serdadu Belanda di Desa Marga, Tabanan, Bali.
Pertempuran sengit pun tidak dapat dihndari. Sehingga sontak daerah Marga yang saat itu masih dikelilingi ladang jagung yang tenang, berubah menjadi pertempuran yang menggemparkan dan mendebarkan bagi warga sekitar. Bunyi letupan senjata tiba-tiba serentak mengepung ladang jagung di daerah perbukitan yang terletak sekitar 40 kilometer dari Denpasar itu.
Pasukan pemuda Ciung Wanara yang saat itu masih belum siap dengan persenjataannya, tidak terlalu terburu-buru menyerang serdadu Belanda. Mereka masih berfokus dengan pertahanannya dan menunggu komando dari I Gusti Ngoerah Rai untuk membalas serangan. Begitu tembakan tanda menyerang diletuskan, puluhan pemuda menyeruak dari ladang jagung dan membalas sergapan tentara Indische Civil Administration (NICA) bentukan Belanda. Dengan senjata rampasan, akhirnya
Ciung Wanara berhasil memukul mundur serdadu Belanda.
Namun ternyata pertempuran belum usai. Kali ini serdadu Belanda yang sudah   terpancing emosi berubah menjadi semakin brutal. Kali ini, bukan hanya letupan senjata yang terdengar, namun NICA menggempur pasukan muda I Gusti Ngoerah Rai ini dengan bom dari pesawat udara. Hamparan sawah dan ladang jagung yang subur itu kini menjadi ladang pembantaian penuh asap dan darah.
Perang sampai habis atau puputan inilah yang kemudian mengakhiri hidup I Gusti Ngurah Rai. Peristiwa inilah yang kemudian dicatat sebagai peristiwa Puputan Margarana. Malam itu pada 20 November 1946 di Marga adalah sejarah penting tonggak perjuangan rakyat di Indonesia melawan kolonial Belanda demi Nusa dan Bangsa.
Peristiwa Unik dalam Perang Puputan Margarana
            Perang mempertahankan kemerdekaan Indonesia terjadi di Bali tahun 1946 dibawah pimpinan Gusti Ngurah Rai.Tepatnya pada 20 November 1946 terjadilah pertempuran habis-habisan antara pasukan pejuang Republik Indonesia bernama Pasukan Ciung Wanara pimpinan I Gusti Ngurah Rai melawan kaum penjajah Belanda,di Banjar Kelaci, Desa Marga. Pertempuran ini terkenal dengan nama Perang Puputan Margarana. Puputan, dalam bahasa Bali, berarti “habis-habisan”, sedangkan Margarana berarti “Pertempuran di Marga”; Marga adalah sebuah desa ibukota kecamatan di pelosok Kabupaten Tabanan, Bali. 
Dalam perang  tersebut I Gusti Ngurah Rai dan seluruh 1371 pasukannya gugur di medan tempur melawan penjajah Belanda yang bersenjata lebih lengkap dan berjumlah lebih banyak. Untuk mengenang jasa mereka, pemerintah Propinsi Bali membuat sebuah monumen di daerah Tabanan Bali, yang dinamakan Taman Pujaan Bangsa Margarana, di Kabupaten Tabanan, Bali.



Monumen ini beridiri di atas tanah seluas 9 hektar sejak bulan November 1954. Sebuah nisan dari Kolonel I Gusti Ngurah Rai nampak berada paling depan dengan membelakangi ribuan nisan pahlawan lainnya yang diketahui sebagai anggota pasukan Ngurah Rai yang dikenal dengan sebutan Ciung Wanara.

Total terdapat sebanyak 1.372 batu nisan dari para pahlawan yang gugur dalam Perang Puputan atau perang sampai titik darah penghabisan.


Diabadikan dalam uang
Ribuan nisan ini berisikan nama-nama pahlawan yang gugur dalam  perang Puputan Margarana. Dalam perang  Puputan Margarana yang terjadi pada 20 November 1946, Kolonel I Gusti Ngurah Rai  dan ribuan pasukannya tewas saat bertempur melawan Belanda dengan senjata yang lebih lengkap dan jumlah pasukan yang lebih banyak.

"Di tempat I Gusti Ngurah Rai ditemukan dalam kondisi meninggal dunia, pemerintah membuat simbol dengan membuatkan monumen setinggi tujuh belas meter, dengan anak gapura sebanyak delapan, dan anak tangga berbentuk angka 45. Simbol dalam monumen yang dibuat sesuai momentum kemerdekaan Indonesia yakni 17-08-1945," jelas I Gede Putu Ardiasa, pengelola Monumen Nasional Taman Pujaan Bangsa Margarana. 
  

I Gusti Ngurah Rai dan beberapa komandan Ciuang Wanara
Selain batu nisan dan monumen, untuk mengenang jasa para pahlawan yang ikut berperang melawan penjajah guna memperjuangkan kemerdekaan republik Indonesia, di monumen nasional Taman Pujaan Bangsa Margarana juga terdapat tempat penyimpanan senjata dan alat alat perang lainnya milik I Gusti Ngurah Rai dan pasukan berani matinya, Ciung Wanara.



Presiden Soekarno berziarah ke makam pahlawan (alm) I Gusti Ngurah Rai di dampingi 3 putra dan istri (alm) di taman makam pahlawan Margarana Tabanan Bali tahun1950.

Untuk menghormati jasa-jasa beliau, nama I Gusti Ngurah Rai juga kemudian diabadikan menjadi nama airport satu-satunya di Bali dan juga jalan utama di Bali. Tidak lupa juga terdapat event di mana setiap tanggal 20 November terdapat upacara penyerahan surat sakti yang dilakukan oleh pasukan ciung wanara yang dilakukan oleh siswa-siswa di Bali. Kemudian dari tanggal 19 – 21 November, di mana pada malam harinya terdapat carnival untuk memeriahkan hari peringatan Puputan Margarana.
Sejarah Singkat Perjuangan Pasukan-M di Bali.
Pendaratan Sekutu di Bali dimulai pada Oktober 1945 di Kota Singaraja di utara Pulau Bali. Terjadi insiden penurunan bendera Merah Putih yang memancing kemarahan pemuda setempat. Bendera Belanda Merah Putih Biru dikibarkan di pelabuhan Singaraja. Kementerian Penerangan dalam Buku Republik Indonesia Propinsi Sunda Ketjil mencatat, para pemuda membalas merobek bagian biru bendera triwarna sehingga menyisakan Merah dan Putih. Pihak NICA membalas dengan membuka tembakan ke arah para pemuda. Seorang pemuda bernama Merta tewas dalam insiden tersebut. Situasi di Singaraja pun memanas.
Pendaratan besar-besaran tentara Sekutu dan Belanda di Pulau Bali terjadi tanggal 2 Maret 1946. Pramoedya Ananta Toer mencatat dalam Kronik Revolusi Indonesia Jilid II, sebanyak 2.000 prajurit Sekutu mendarat. Komponen pasukan yang mendarat di Pantai Sanur adalah serdadu Inggris, Belanda, dan NICA-Indonesia. Turut mendarat di sana para tokoh Bali pro-Belanda seperti bekas Asisten Residen Denpasar, Kontrolir Klungkung, dan Kepala Distrik Denpasar.
Saat Sekutu dan Belanda mendarat di Bali, Overstee (Letkol) I Gusti Ngurah Rai sebagai perwira tertinggi Tentara Republik Indonesia (TRI) untuk Sunda Kecil sedang berada di Jogjakarta guna  berkonsultasi dengan Markas Besar TRI mengenai pembinaan Resimen Sunda Kecil dan cara-cara menghadapi Belanda. Pendaratan Sekutu dan Belanda berlanjut hingga tanggal 3 Maret 1946.
Melihat gerak maju pasukan Sekutu dan Belanda di Bali, maka diperintahkanlah untuk menyiapkan serangan di Bali oleh Resimen Sunda Kecil. Semula OversteeNgurah Rai meminta persenjataan dari Markas TRI di Jogjakarta. Namun, akhirnya diputuskan dikirim Pasukan Kapten Markadi dan Pasukan Kapten Albert Waroka. Mereka dikenal secara umum sebagai “Pasukan-M” yang menggelar operasi amfibi pertama TNI melintasi Selat Bali dari titik keberangkatan Banyuwangi ke pantai barat Pulau Bali di sekitar Jembrana.
Keterlibatan Pasukan-M pimpinan Kapten Markadi dalam ekspedidi lintas laut Banyuwangi-Bali guna mengusir pasukan Belanda bukanlah perkara mudah, namun penuh heroisme, bahkan harus dibayar dengan darah dan air mata. Ekspedisi tidak saja berhasil mengawal Komandan Resimen TKR Sunda Kecil Overstee I Gusti Ngurah Rai ini kembali ke Bali, akan tetapi merupakan embrio perang rakyat semesta mampu menyatukan kekuatan TKR Laut, Darat, badan-badan perjuangan, para nelayan serta rakyat Bali sekaligus berhasil menggerakkan semangat perjuangan rakyat Bali.
Sosok Kapten Markadi yang cerdas, berani, pantang menyerah, dan rendah hati tidak akan pernah hilang begitu saja dalam memori kolektif masyarakat Bali. Perjuangan dan cita-citanya tidak akan pernah padam dan akan terus bergelora untuk kepentingan tanah air, bangsa dan negara.

Dampak Pertempuran Puputan Margarana

Dampak dari perang ini ada banyak orang yang meninggal dan akhirnya Belanda menguasai wilayah itu. tetapi tetap saja apa yang dilakukan I Gusti Ngurah Rai adalah hal yang benar karena lebih baik mati setelah berjuang habis-habisan daripada tidak berusaha sama sekali. Walaupun dengan melakukan peperangan ini I Gusti Ngurah Rai harus mengorbankan banyak pasukannya bahkan  dirinya sendiri.